DetikNews
Kamis 20 Apr 2017, 14:05 WIB

Korupsi PT PAL Tak Ganggu Hubungan Bisnis RI-Filipina

Elza Astari Retaduari - detikNews
Korupsi PT PAL Tak Ganggu Hubungan Bisnis RI-Filipina Eks Dirut PT PAL Firmansyah Arifin/ Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - PT PAL persero terseret kasus korupsi setelah mantan Dirut-nya, M Firmansyah Arifin diciduk KPK karena dugaan suap dalam proyek dua kapal perang pesanan Filipina. Kementerian Pertahanan memastikan hubungan diplomasi Indonesia dengan Filipina tetap baik.

"Nggak. Jadi Kemhan kan tidak terlibat dalam masalah itu, karena bukan G to G," ungkap Kapuskom Publik Kemhan Kolonel Totok Sugiarto dalam acara gathering media di Kantor Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (20/4/2017).

Kasus korupsi yang membelit Firmansyah terkait dengan pesanan 2 unit kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) dari militer Filipina dari The Departement of National Defence Armed Forces of The Philippines. Totok memastikan pesanan tersebut murni masalah bisnis dan tidak terkait kerja sama diplomasi dengan pemerintah sehingga Kemhan tak bisa ikut campur terkait evaluasi maupun pengawasannya.

"Sesuai dengan porsi kita, kalau terkait dengan kebijakan mungkin bisa. Tapi kalau ini kan murni bisnis mereka sendiri kan, bukan dari Kemhan," kata dia.

Totok juga menyatakan meski ada masalah korupsi, hal tersebut tak mempengaruhi hubungan diplomasi kedua negara. Kasus korupsi pada proyek ekspor kapal perang senilai Rp 1,1 triliun itu juga menurutnya tidak mendiskreditkan karya anak bangsa, dalam hal ini di dalam bidang pelayaran.

"Hubungan diplomasi tetap baik, kita jalankan yang terbaik, untuk NKRI ini," ujar Totok.

"Kita tetap, anak-anak bangsa kita lebih hebat dibandingkan negara lain. Tetap optimis," sambungnya.

Seperti diketahui, KPK menangkap Firmansyah yang diduga menerima suap. Dia juga dipecat dari jabatannya oleh Kementerian BUMN dan kini digantikan oleh Budiman Saleh.

Sebelum operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK, PT PAL telah mengirim satu kapal perang yang dilengkapi dengan meriam kaliber 76 itu. Ekspor perdana kapal perang dengan nomor BRP TARLAC (LD-601), dilakukan dari dok perkapalan PT PAL Indonesia, Tanjung Perak, Surabaya, pada 8 Mei 2016 lalu.

Sedangkan Kapal SSV pesanan, rencananya dikirim ke Filipina dalam waktu dekat ini. Selain Firmansyah, Saiful Anwar selaku Direktur Keuangan dan Teknologi PT PAL Indonesia, dan Arief Cahyana selaku GM Treasury PT PAL Indonesia juga ikut ditetapkan sebagai tersangka.
(ear/rvk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed