DetikNews
Rabu 12 April 2017, 16:35 WIB

Kena Sanksi, Waka Pengadilan Tinggi Surabaya Belum Dicopot

Mustakim - detikNews
Kena Sanksi, Waka Pengadilan Tinggi Surabaya Belum Dicopot Suhadi (ari/detikcom)
Jakarta - Wakil Ketua Pengadilan Tinggi (Waka PT) Surabaya Andriani Nurdin telah dijatuhi sanksi etik dari Komisi Yudisial (KY). Namun, Andriani masih duduk di kursinya hingga hari ini.

Sanksi KY itu berbentuk skorsing 6 bulan dan tidak mendapat fasilitas serta tunjangan selama 6 bulan. Tetapi saat dilihat dari situs resmi Pengadilan Tinggi Surabaya hari ini, Adriani belum dicopot dari jabatannya sebagai Waka PT Surabaya.

Atas hal itu, juru bicara Mahkamah Agung (MA), Suhadi mengaku hal tersebut belum sampai ke MA. Menurutnya hal tersebut ditangani oleh Badan Pengawas.

"Belum tahu, itu pintunya biasanya dari Badan Pengawas. Kalau masalah hakim belum sampai ke saya," ujarnya saat ditemui di Mahkamah Agung, Jl. Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (12/4/17).

Sebagaimana diketahui, Waka PT Surabaya, Andriani Nurdin dijatuhi sanksi etik karena melakukan lobi-lobi perkara dengan meminta bantuan Kasubdit Perdata MA, Andri Tristianto Sutrisna. Andri telah dihukum 9 tahun penjara di kasus makelar perkara.

"Sesuai rekomendasi KY, perilaku etik murni dan telah dijatuhkan sanksi 6 bulan nonpalu, itu berlaku murni," ujar jubir KY, Farid Wajdi, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (10/1/2017).

Farid mengatakan perkara Andriani sebagai terlapor tidak dibawa ke sidang Majelis Kehormatan Hakim (MKH). Itu lantaran dari KY tidak ditemukan bukti sebagaimana dalam pelaporannya.

"Sesuai hasil pemeriksaan kita, tidak ada bukti menujukan bahwa yang bersangkutan menjanjikan atau menerima sesuatu. Ini atas pemeriksaan kita, bukan dugaan. Karena saya termasuk yang memeriksa di KY," papar Farid.

Andriani mengaku pasrah atas sanksi yang diberikan oleh KY. Pihaknya pun enggan mengomentari rekomendasi tersebut.

"Oh, begitu. Saya pasrah saja, Pak. Kalau begitu, terserah KY, terserah KY. Kalau memang KY mengatakan begitu, terserah saja, apalah kata KY. Begitu saja, Mas. Saya tidak bisa ngomong lagi. Saya nggak tahu lagi soal isinya," kata Andriani dengan nada tinggi.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed