DetikNews
Jumat 24 Maret 2017, 13:44 WIB

Luhut Ragukan Esemka Jadi Mobil Presiden, Pesimistis atau Realistis?

Danu Damarjati - detikNews
Luhut Ragukan Esemka Jadi Mobil Presiden, Pesimistis atau Realistis? Mobil Esemka (Istimewa/detikOto)
Jakarta - Ide liar menggelinding dari Senayan. Anggota Dewan mengusulkan agar mobil Mercedes-Benz kepresidenan yang sering mogok itu diganti saja dengan mobil Esemka karya anak bangsa. Namun ketakyakinan soal ide ini keburu menyeruak dari pemerintah.

Esemka adalah mobil yang pernah mengantarkan Joko Widodo ke kancah perpolitikan nasional. Mobil karya siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) ini fenomenal saat Jokowi masih menjadi Wali Kota Solo.

Luhut Ragukan Esemka Jadi Mobil Presiden, Pesimis atau Realistis?Foto: detikfoto


Kini Jokowi menjadi presiden. Isu berganti. Esemka seolah tak pernah diucapkan lagi oleh publik. Lewat mogoknya mobil Presiden di Kalimantan Barat, mobil Esemka menjadi mencuat kembali. Harapan muncul, Esemka bisa lebih fenomenal ketimbang sebelumnya. Wakil Ketua DPR Fadli Zon adalah yang melemparkan isu ini.

"Ya ganti dengan Esemka saja," kata Fadli pada Kamis (23/3/2017) kemarin.

Tentu spesifikasi untuk mobil kepresidenan tidak main-main. Mobil harus punya kemampuan prima, umumnya berkapasitas silinder di atas 5.000 cc dan kebal peluru. Pokoknya, ini benar-benar kendaraan untuk orang yang sangat-sangat penting (very very important person/VVIP). Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) berkepentingan menjaga presiden terhadap segala kemungkinan yang terjadi.

"Sudah ada ketentuannya," kata Komandan Paspampres Brigjen Suhartono.

Tanggapan mulai muncul dari pemerintah. Entah pesimistis atau realistis, mobil Esemka dinilai belum memenuhi spesifikasi untuk menjadi mobil presiden. Ini demi keamanan presiden, bukan karena alasan lain.

"Jadi kalau itu Esemka kamu aja yang naik, jangan kita suruh presiden yang naik, ha-ha-ha.... Nanti tahu-tahu presidennya, gara-gara Esemka repot lagi tuh. Remnya blong lagi," kata Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di gedung BPPT, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Dia sedang bercanda. Namun Luhut tak menutup kemungkinan Esemka menjadi mobil kepresidenan. Barangkali dua dasawarsa lagi Esemka mampu menciptakan spesifikasi mobil kepresidenan. "Mungkin 20 tahun lagi Esemka sudah bagus, kenapa tidak. Bisa saja. Tapi kalau sekarang, menurut saya, belum," ujar Luhut.

Haruskah menunggu cukup lama untuk karya anak bangsa menjadi tunggangan utama pemimpin negara. Apakah ide Fadli Zon terlalu gila atau kelewat iseng. Pertimbangan pesimistis atau realistis bercampur aduk.

Sekadar perbandingan, Malaysia punya produk mobil nasional yang namanya sudah cukup terkenal, Perusahaan Otomobil Nasional (Proton). Apakah pemimpin Malaysia menggunakan Proton. Kabarnya memang demikian. Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dan Wakil Perdana Menteri Muhyiddin Yassin menggunakan mobil Proton Perdana generasi kedua.

Dari India, ada mobil bermerek Tata. Meski Presiden dan Wakil Presiden India dibekali Mercy S600 sejenis dengan kepunyaan Kepresidenan RI, mereka juga menggunakan Tata Safari, produk nasional mereka. Dari Korea Selatan, presiden di sana menggunakan Hyundai Equus, yang didesain sedemikian rupa sehingga memenuhi standar keamanan.

Barangkali benar kata Luhut, Indonesia perlu menunggu dua dekade lagi hingga Esemka bisa memproduksi mobil yang pantas. Atau kata-kata Luhut meremehkan?
(dnu/van)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed