Jangan Khawatir Laptop Rusak di Bagasi Pesawat, Begini Prosedurnya

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Jumat, 24 Mar 2017 13:35 WIB
Foto: Ilustrasi (Dok PT JAS)
Jakarta - Larangan membawa laptop dan tablet ke kabin pesawat menimbulkan was-was bagi para penumpang. Para penumpang khawatir laptopnya bisa rusak bahkan hilang bila ditaruh di bagasi.

PT Jasa Angkasa Semesta (JAS) Airport Service pun menjelaskan prosedurnya. JAS menangani ground handling maskapai internasional di Indonesia yang memiliki rute ke AS, di antaranya Qatar Airways, Etihad, Emirates dan Saudi Arabian Airlines yang terkena dampak larangan itu.

Ini berarti penumpang asal Indonesia yang ke AS mesti menaruh laptop dan tabletnya di bagasi sejak di Indonesia bila naik maskapai dari Timur Tengah atau maskapainya transit di negara Timur Tengah dan Afrika Utara.

General Manager Area I JAS Andi Lukman pun menjelaskan prosedurnya bila ada bagasi rusak atau hilang, dalam keterangan tertulis pada detikcom, Jumat (24/3/2017) sebagai berikut:

1. Standard Operational Procedure (SOP) penanganan bagasi tercatat:

a. Bahwa seluruh bagasi dicatat dalam daftar muatan

b. Dilakukan pengawasan penuh dengan perangkat CCTV di area baggage make-up (area memasukkan bagasi ke dalam kontainer) dan area baggage break down (area mengeluarkan bagasi dari kontainer)

c. Pengawasan penuh dilakukan oleh petugas Avsec JAS, sampai bagasi tersebut dimuat ke dalam kompartemen pesawat.

d. Beda seperti TSA (Transportation Security Administration, badan di bawah Departemen Homeland Security AS-red) yang bisa menggeledah resmi, petugas JAS sama sekali tidak membuka bagasi penumpang sebelum keberangkatan, hanya loading saja.

2. Prosedur klaim barang rusak / hilang:

a. Jika pada saat kedatangan di Jakarta terdapat laporan dari penumpang atas kasus kehilangan bagasi, maka unit kerja Lost & Found JAS akan melakukan pendataan penumpang yaitu seluruh dokumen perjalanannya (paspor dan tiket).

b. Petugas JAS melakukan proses tracing atau penelusuran ke bandara keberangkatan (origins station) dan/atau bandara transit (transit station) untuk mendapatkan informasi apakah bagasi tertinggal di bandara tersebut.

c. Untuk kerusakan bagasi yang bisa saja terjadi di bandara keberangkatan, transit atau tujuan, tidak melulu Indonesia, maka maskapai akan memberikan kebijakan berupa kompensasi perbaikan bagasi/koper atau penggantian, tergantung dari tingkat kerusakannya. (nwk/rvk)