DetikNews
Jumat 17 Maret 2017, 15:31 WIB

Sebelum Aksi di Istana, Petani Telukjambe Karawang Sempat Terlantar

Luthfiana Awaluddin, - detikNews
Sebelum Aksi di Istana, Petani Telukjambe Karawang Sempat Terlantar Foto: Akhmad Mustaqim/detikcom
Jakarta - Ratusan petani yang tergabung dalam Serikat Tani Telukjambe Bersatu (STTB) menggelar aksi di depan Istana Negara sejak kemarin (Kamis/17/3/2017). Sebanyak 250 orang, termasuk 40 anak kecil ikut dalam aksi tersebut.

Aris Wiyono, Dewan Pembina Serikat Tani Telukjambe Bersatu mengatakan, ratusan petani tersebut sempat terlantar dan akhirnya menginap di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, jalan Menteng Raya 62. "Tadi malam kami terpaksa menginap di Muhammadiyah," ujar Aris saat dihubungi detikcom di Karawang, Jumat (17/3/2017).

Aris mengatakan ratusan petani tersebut tidak akan pulang sebelum bertemu presiden Joko Widodo. "Kami akan bertahan. Di Karawang pun sama saja, hidup seadanya," kata Aris.

Belum jelas sampai kapan par petani itu akan bertahan. Aris mengaku mendapat bantuan dari banyak pihak termasuk pemuda Muhammadiyah. "Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Muhammadiyah karena telah membantu petani," kata dia.

Para petani itu berharap presiden Joko Widodo menyelesaikan konflik tanah di Telukjambe Barat. "Kami harap dapat kembali ke ladang dan rumah kami," kata Aris Wiyono, Dewan Pembina Serikat Tani Telukjambe Bersatu, saat dihubungi lewat telepon Jumat, 16 Maret 2017.

Aris menambahkan supaya presiden segera meneken peraturan presiden mengenai distribusi lahan. Rencananya, pepres tersebut bakal menjadi dasar pemerintah untuk melakukan sertifikasi 9,1 juta hektare lahan di dalam kawasan hutan yang telah diduduki warga.

Namun, menurut Sofyan Djalil, Menteri Agraria dan Tata Ruang, kebijakan itu terkendala penguasaan korporasi. Menurut Kepala Badan Pertanahan Nasional itu, ada 2,7 juta hektare lahan perkebunan yang kini dikelola korporasi.

"Termasuk tanah yang para petani garap di Telukjambe Barat. Kami yang menempati kawasan hutan negara tentu ingin mendapat sertifikat," kata Aris.

STTB mengaku mewakili para petani yang telah menempati serta mengelola lahan hutan negara di Telukjambe sejak tahun 1968. Ratusan petani tersebut mengaku terusir dari bekas tanah partikelir itu akibat penguasaan sebuah perusahaan pengembang.

Sejak pertengahan Desember 2016, 187 keluarga petani yang tergabung dalam STTB ditempatkan di rumah susun Adiarsa oleh pemerintah daerah Kabupaten Karawang. Namun pagi ini, rumah susun Adiarsa kosong tanpa penghuni. 250 petani meninggalkan rumah susun itu pada Kamis pagi, 16 Maret 2017. Menggunakan 4 bus, mereka berangkat ke istana negara untuk mengadu kepada presiden Jokowi.

"Kami tidak akan pulang sebelum dapat keputusan. Kami berharap langsung pulang ke Telukjambe tidak kembali ke pengungsian," kata Aris.

Sebelumnya 15 orang petani Telukjambe berjalan kaki ke istana. Rencananya, mereka akan bergabung dengan para petani Kendeng untuk aksi bersama. "Para petani yang berjalan kaki sempat beristirahat di tugu tani," kata Aris.
(fjp/fjp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed