ADVERTISEMENT

Dugaan Korupsi Rp 38 M, Buron Kejati Jabar Ini Ditangkap di Jakarta

Baban Gandapurnama - detikNews
Jumat, 10 Feb 2017 18:01 WIB
Foto: Baban Gandapurnama/detikcom

Sejak dini hari tadi, George berada di gedung Kejati Jabar. Selepas salat Jumat atau sekitar pukul 13.45 WIB tadi, petugas Kejati Jabar membawa George, yang mengenakan kemeja biru lengan pendek, untuk dijebloskan ke sel tahanan Rutan Kebonwaru, Jalan Jakarta, Kota Bandung. Tanpa diborgol, George memilih bungkam dan menutupi wajah menggunakan tas plastik berwarna merah.

Selama berstatus buron, George acap kali berpindah tempat di seputar Jakarta guna menghindari buruan petugas.

Kasus dugaan korupsi ini bermula saat Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI melaksanakan bantuan Program Kegiatan Rehabilitasi Tambak Budidaya (demfarm) Udang berupa plastik mulsa, pompa, genset, kincir, benur, dan pakan dengan dana bersumber dari APBN-P untuk lokasi di Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, atau tepatnya di Desa Bungko dan Bungko Lor seluas 245 hektare. Petambak yang ikut program tersebut mesti bekerja sama dengan mitra dalam membangun tambak demfarm yang ditetapkan KKP dan mengajukan proposal bantuan yang diketahui kepala desa serta ditujukan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cirebon.

George, yang mengetahui ada bantuan tersebut, berniat mendapatkan fasilitas bantuan dari pemerintah. Dia merekayasa dengan cara menyewa lahan milik beberapa kelompok tambak yang berlokasi di dua desa tersebut. Setelah mengusai lahan, George membentuk tiga kelompok penambak yang ternyata kelompok buatannya itu bukanlah penambak udang, melainkan karyawan perusahaan milik George. Singkat cerita, tiga kelompok yang direkayasa George dan enam kelompok penambak lainnya menerima bantuan barang berupa plastik mulsa, pompa, genset, kincir, benur, dan pakan.

"Barang-barang dari KKP tersebut yang diperuntukkan kepada kelompok nelayan yang kerja sama dengan mitra, ternyata barangnya tidak sampai (ke kelompok nelayan)," ucap Untung.

Setelah berakhirnya kerja sama kemitraan, tersangka George tidak pernah menyerahkan kembali barang-barang bantuan dari negara itu. Dia malah menguasai dan memiliki sejumlah barang tersebut. Guna membuat penguasaan barang itu seolah menjadi legal, George merekayasa kasus seakan-akan ia selaku Direktur PT Tambak Mas Makmur berutang kepada PT Biotech Indonesia berdasarkan perjanjian pinjam-pinjam. Dalam gugatannya tersebut, George membuat sendiri gugatan dari PT Biotech Indonesia, yang diajukan ke PN Cirebon. Dia meminta diletakkan sita jaminan terhadap barang-barang yang notabene milik negara.

Berdasarkan putusan PN Cirebon, PT Tambak Mas Makmur dinyatakan kalah dan diharuskan menyerahkan barang-barang jaminan tersebut kepada PT Biotech Indonesia. Akibat perbuatan tersebut, George disangkakan melanggar Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 33 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Tersangka sementara ini satu orang. Ya kita lihat perkembangan ke depan," ucap Untung singkat.
(bbn/trw)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT