Profesor Romli akan Bikin Buku Lika-liku Kasus Jessica Wongso

Audrey Santoso - detikNews
Kamis, 19 Jan 2017 17:52 WIB
Jessica Wongso (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Ahli hukum pidana Prof Romli Atmasasmita menilai kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin menarik untuk dikaji dan dijadikan literatur. Romli pun berencana menulis buku tentang putusan bersalah yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) terhadap Jessica Kumala Wongso atas kasus itu.

Romli mengaku akan menulis buku tentang lika-liku kasus itu. Buku itu akan berisi tentang Jessica mulai dari berurusan dengan Polda Metro Jaya hingga dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

"Iya nanti saya akan minta data-datanya ke Pak Otto. Banyak ahli bersaksi tapi bukan sebagai saksi ahli, itu sindiran," ujar Romli usai menghadiri diskusi 'Autopsi Sebagai Penentu Kematian Seseorang yang Tidak Wajar' di Kampus Pasca Sarjana Universitas Pelita Harapan, Semanggi, Jakarta Selatan, Kamis (19/1/2017).

Romli menyebut kesaksian ahli dalam sidang Jessica adalah salah satu bahasan yang akan dikupas tuntas dalam buku tersebut. Romli berpendapat ahli-ahli yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) untuk mengemukakan analisis keilmuannya telah melampaui batasan etika.

"Begini, kalau kasus Jessica, ahli itu sudah melampaui batas-batas kewenangannya berbicara. Ahli itu tidak boleh memvonis bahwa seorang bersalah. Dia mengeluarkan pendapat saja. Fakta pun tidak ada bagaimana dia bisa mengatakan si ini, si itu bersalah?" jelas Romli.

Romli mengingatkan bahwa Indonesia telah menyetujui ratifikasi Deklarasi HAM Internasional dan Undang-undang Dasar sudah mengatur HAM, sehingga 'adegan' kepribadian Jessica 'ditelanjangi' oleh saksi dalam drama persidangan tidak menunjukkan peradilan di negara hukum.

"Siapa pun dia, dalam posisi apa pun. Kita kan sudah meratifikasi tentang Deklarasi HAM Internasional, UUD, konstitusi kita mengatur. Kok prakteknya harga diri manusia Indonesia disepelekan betul," tegas dia.

Romli juga mengaku prihatin dengan kasus Jessica. Menurutnya, kasus itu memperlihatkan banyaknya kepentingan.

"Saya prihatin dengan kasus Jessica. Terlihat banyak kepentingan di dalamnya. Kasus Jessica adalah sejarah kelam untuk pendidikan, perkembangan hukum di Indonesia," tutur Romli.

Romli mengutip sebuah wawancara Binsar Gultom dengan media massa yaitu ketika Binsar mengatakan kasus pembunuhan Mirna sederhana dan sejak awal meyakini Jessica bersalah. Ia berpendapat tidaklah sederhana menganalisis kasus pembunuhan berencana tanpa pengakuan, adanya bukti perencanaan, autopsi dan motif.

"Katanya (Binsar) kasus ini simpel dan dari awal sudah yakin Jessica membunuh. Tanpa adanya bukti bagaimana Jessica merencanakan pembunuhan, beli sianidanya di mana. Misalkan mencopet saja ada motif, menusuk orang ada motif. Lalu tidak ada autopsi," terang Romli.

Soal keyakinan majelis hakim, Romli mengujar hal tersebut sah-sah saja selama berdasarkan dua alat bukti yang sifatnya otentik dengan perbuatan pidana yang didakwa terhadap Jessica

"Jadi kalau pertimbangannya keyakinan berdasarkan dua alat bukti, tidak masalah. Bukan karena tak ada air ingus dari hidung menetes hingga ke mulut seperti yang dibacakam hakim dalam putusan," jelas Romli. (dhn/tor)