Jokowi Diundang Nonton Film Wiji Thukul

Muchus Budi R. - detikNews
Kamis, 12 Jan 2017 20:16 WIB
Foto: Pemutaran film 'Istirahatlah Kata-kata' di Solo (Muchus/detikcom)
Solo - Keluarga penyair Wiji Thukul berharap Presiden Jokowi menonton film 'Istirahatlah Kata-kata' yang mengisahkan kehidupan Wiji Thukul. Film itu akan diputar serentak di sejumlah bioskop di 10 kota di Indonesia mulai 19 Januari nanti.

"Kami keluarga Wiji Thukul mengundang Bapak Jokowi untuk melihat film ini, agar beliau bisa mendapatkan spirit Thukul dalam puisi-puisinya. Pak Jokowi sendiri bilang dia penyuka puisi-puisi Jokowi," ujar adik kandung Thukul, Wahyu Susilo, usai menyaksikan pemutaran terbatas film 'Istirahatlah Kata-kata' untuk keluarga dan kawan seperjuangan Thukul di Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/1/2017).

Film berdurasi 98 menit tersebut mengisahkan tentang masa-masa sulit penyair Wiji Thukul Wijaya sebagai pelarian saat dikejar-kejar oleh Rezim Orde Baru pada tahun 1996. Film yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen itu mengambil setting lokasi ketika penyair asal Solo itu lari berpindah-pindah hingga akhirnya ditampung oleh kawan-kawannya di Pontianak, Kalimantan Barat.

Wahyu menyebut film tersebut sebagai persembahan anak-anak muda kreatif dan peduli untuk bangsanya. Menurutnya, para kreator film layak mendapat apresiasi khusus karena mereka masih belia saat Wiji Thukul aktif di gerakan, namun mereka mampu menghadirkan sosok dan spirit Thukul yang 'kata-katanya' menghantui rezim Orde Baru.

Produser film 'Istirahatlah Kata-kata', Yulia Evina Bhara, mengatakan film tersebut bukan sebuah karya yang berdiri sendiri. Film itu merupakan rangkaian dari upaya anak-anak muda yang ingin terus membaca sejarah. Sebelumnya Yulia dan kawan-kawan sudah menggelar berbagai aksi bersama kelompok Barisan Pengingat, yang salah satunya membuat mural tentang Wiji Thukul.

"Segmen yang ingin kita bidik adalah anak-anak muda agar paham tentang sejarah. Kami ingin mengajak anak-anak muda untuk membaca sejarah masa-masa sulit. Bahwa sekarang orang bisa bebas berbicara dan menyampaikan pendapat adalah sebuah hasil perjuangan masa lalu yang penuh pengurbanan. Salah satunya Wiji Thukul ikut andil besar untuk itu," kata dia.

Salah seorang sahabat Thukul, Kelik Ismunanto, mengaku terkesan dengan film 'Istirahatlah Kata-kata'. Dia menilai film itu mampu menampilkan situasi politik dan tekanan rezim saat itu pada kebebasan berdemokrasi. Namun, Kelik menilai beberapa karya Thukul saat dalam pelarian justru tidak ditampilkan dalam film sehingga tidak menampakkan catatan karya perlawanan Thukul selama dalam persembunyian itu.

Sang sutradara, Yosep Anggi Noen, mengaku memang sengaja hanya memilih beberapa karya Thukul semasa di persembunyian yang diartikulasikan secara artifisial dalam film. Beberapa tulisan Thukul justru diwujudkan dalam scene film yang dijiwai oleh semangat tulisan-tulisan Wiji Thukul.

"Misalnya tulisan Mas Wiji Thukul 'teman terbaik adalah yang masih tertawa dalam ancaman' kita wujudkan sebagai sebuah scene ketika dia dan kawan-kawannya bersenda-gurau dalam persembunyiannya. Cerpen yang dia tulis di Pontianak berjudul 'Kegelapan' juga kami wujudkan sebagai scene tersendiri," papar Anggi.

Anak kandung Thukul, Fajar Merah, menilai banyak mendapat pengetahuan baru tentang sosok Wiji Thukul dari film tersebut.

Pemutaran film 'Istirahatlah Kata-kata'Foto: Muchus/detikcom
Pemutaran film 'Istirahatlah Kata-kata'


"Garapan filmnya bagus, pesannya sampai kepada saya sebagai penonton," ujarnya usai menonton film yang mengisahkan ayahnya tersebut.

Lalu, apa harapan dia kepada pemerintah tentang ayahnya yang hingga kini belum diketahui nasibnya dan masih masuk dalam daftar orang hilang bersama 12 aktivis lainnya? "Saya sudah tidak memikirkan hal seperti itu (desakan kepada pemerintah). Sudah tidak saya pedulikan lagi," ujarnya singkat.






(mbr/idh)