DetikNews
Kamis 29 Desember 2016, 18:24 WIB

Kaleidoskop 2016

Gaduh Brexit, Gugatan Cerai Inggris ke Uni Eropa

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Gaduh Brexit, Gugatan Cerai Inggris ke Uni Eropa Foto: Ilustrator Zaki Alfarabi
Jakarta - Inggris akhirnya memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa setelah melakukan referendum. Kubu 'leave' menang pada referendum yang digelar di pertengahan tahun 2016.

Referendum dilakukan pada Kamis (23/6/2016) pukul 07.00 - 22.00 GMT. Sebanyak 46.499.537 orang berhak untuk mengambil bagian dalam pemungutan suara ini. Jumlah ini disebut rekor dalam suatu pemilihan di United Kingdom (UK).

Ada 382 daerah penghitungan lokal. Ini mewakili semua wilayah pemerintah daerah di Inggris, Skotlandia dan Wales yang berjumlah 380. Kemudian ditambah 2, yakni dari Irlandia Utara dan Gibraltar.

Kubu 'leave' atau meninggalkan Uni Eropa berargumen bahwa gelombang imigran ke Inggris semakin tak terkendali. Sehingga mereka menginginkan lepas dari Uni Eropa.

Sementara itu kubu 'remain' atau tetap di Uni Eropa menganggap bahwa persoalan dunia tak bisa dihadapi seorang diri. Perlu kerja sama dengan negara-negara lain untuk menghadapi persoalan dunia.

Meski di awal disebut ada 46.499.537, tetapi yang terdaftar di hari pemilihan menjadi 46.500.001. Namun yang mengikuti referendum tercatat 33.568.184 atau 72,2% saja.

Hasil akhir referendum mencatat, 51,9 % masyarakat Inggris memilih keluar dari Uni Eropa. Sisanya sebanyak 48,2 % bertahan di Uni Eropa.

(Baca juga: Dari London Sampai Wales, Ini Perbandingan Hasil Brexit di Berbagai Wilayah)

Hasil dari referendum ini mengundang reaksi negara lain yang ada di Uni Eropa. Hasil ini juga membuat PM Inggris David Cameron mengundurkan diri.

"Saya pikir tidak akan tepat bagi saya untuk menjadi kapten yang membawa negara kita pada tujuan berikutnya," ucap PM Cameron kepada wartawan di luar kantornya di Downing Street, London, seperti dilansir Reuters.

Tetapi Inggris baru akan benar-benar keluar dari Uni Eropa setelah menyelesaikan proses administrasi yang bisa memakan waktu hingga 2 tahun. Sehingga dalam jangka pendek memang belum muncul dampak signifikan.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa disebut dengan istilah Brexit, akronim dari British Exit. "Ini merupakan dilema besar untuk pejabat di Uni Eropa, kita semua ingin menjaga Uni Eropa, pertanyaannya adalah, Uni Eropa yang seperti apa?" kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Polandia Witold Waszczykowski seperti dilansir Reuters, Jumat (24/6/2016).

Merasa menang, penggagas kubu 'leave' Nigel Farage menyatakan keputusan referendum sebagai kemerdekaan. Nigel kemudian mengundurkan diri dari posisi pimpinan Partai UKIP atau Partai Kemerdekaan Inggris.

Usai keputusan Brexit, nilai mata uang Inggris Poundsterling terus merosot. Di Indonesia bahkan dari kisaran Rp 19.000 menjadi Rp 17.000 saat itu.

Beberapa hari kemudian tidak sedikit warga yang tadinya mendukung Inggris keluar dari Uni Eropa atau memilih 'Leave' atau keluar dalam referendum Brexit pada 23 Juni lalu, menyesali keputusan mereka. Kebanyakan dari mereka tak mengira Inggris akan benar-benar keluar dari Uni Rropa.

Fenomena soal penyesalan massal warga Inggris ini dijuluki sebagai 'Bregret' atau 'British regret' oleh media-media Inggris. Petisi menyerukan digelarnya referendum kedua soal keanggotaan Uni Eropa bahkan muncul dalam situs resmi parlemen dan pemerintah Inggris, sejak Jumat (24/6) malam. Hingga 3 hari setelah referendum, petisi online itu meraup sekitar 2 juta tanda tangan warga Inggris.
Gaduh Brexit, Gugatan Cerai Inggris ke Uni EropaFoto: Ilustrator Zaki Alfarabi



(bag/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed