Ketum MUI Soal Rujuk Nasional: Itu Komitmen Kebangsaan, Nggak Harus Berantem

ADVERTISEMENT

Ketum MUI Soal Rujuk Nasional: Itu Komitmen Kebangsaan, Nggak Harus Berantem

Nugroho Tri Laksono, - detikNews
Rabu, 30 Nov 2016 14:25 WIB
Ma'ruf Amin (tengah)/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Presiden Joko Widodo 'menanggapi dingin' gagasan MUI mengenai perlunya rujuk nasional pasca situasi yang sempat memanas. Ketum MUI Ma'ruf Amin menyatakan dalam rujuk nasional, tidak perlu diawali berantem terlebih dahulu.

"Saya ngajak rujuk nasional untuk dialog nasional menuju rujuk nasional, keliatannya bapak presiden memahaminya itu seperti ada berantem. Maksudnya rujuk nasional itu rujuk kepada komitmen kebangsaan, rujuk dalam arti khitoh nasionaliyah supaya kita punya kesepakatan yang sama," ujar Ma'ruf Amin di BNN, Cawang, Jaktim, Rabu (30/11/2016).

Menurut Ma'ruf, banyak sekali ketegangan yang muncul akhir-akhir ini. Melibatkan orang-orang yang menggelorakan paham-paham yang tidak sesuai dengan semangat NKRI.

"Seperti di luar itu kan ada yang bilang ini anti pancasila, ini yang pancasila, ini bagian Bhineka Tunggal Ika, ini di luar bhineka tunggal ika, ini NKRI terus ini tidak NKRI. Nah isu-isu seperti itu harus kita selesaikan dengan bermartabat duduk bersama melalui dialog nasional nantinya kita capai rujuk nasional pemahaman yang sama terhadap komitmen kebangsaan negara kita," ujar Ma'ruf.

Ma'ruf akan tetap menggagas Rujuk Nasional. Formatnya seperti apa, nanti akan disampaikan lebih jauh.

"MUI siap mengambil inisiatif tapi kan tidak mungkin sendiri, oleh karena itu nanti kita menyampaikan ini seperti apa bentuknya itu kita rembuk bersama," ujar Ma'ruf.

Dalam kesempatan sebelumnya, Jokowi menegaskan kondisi bangsa saat ini sangat baik. Karena itu, Jokowi menilai gagasan rujuk nasional bukan istilah tepat jika dimaksudkan sebagai silaturahmi nasional.

"Rujuk apa? Yang berantem siapa? Saya kira rujuk-rujuk itu, la wong kita enggak berantem, kok," kata Jokowi saat menjamu Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar minum teh bersama di beranda belakang Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (29/11/2016) kemarin.

Jokowi mengatakan pihaknya justru ingin mengingatkan kembali keberadaan Indonesia yang dianugerahi dengan perbedaan dan keberagaman.

"Kita ingin mengingatkan kembali betapa kita ini beragam, betapa kita ini majemuk. Enggaklah, saya kira rujuk, rekonsiliasi, kalau kita berada pada posisi apa? Posisi apa?" tanya Jokowi ke Muhaimin.

(fjp/fjp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT