Polri Tertekan karena Kasus Ahok? Kabareskrim: Nggak, Biasa Aja

Ibnu Hariyanto - detikNews
Kamis, 03 Nov 2016 17:36 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Sejumlah organisasi Islam menekan Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI segera menuntaskan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun penyidik Bareskrim merasa tidak terpojok atas berbagai tekanan tersebut.

"Ya nggak. Biasa aja," kata Kabareskrim Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto kepada wartawan Bareskrim Polri, Kompleks Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016). Kabareskrim menjawab pertanyaan apakah Polri merasa tertekan di kasus Ahok.

Menurut Ari Dono, kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok ini persoalan sensitif dan terjadi menjelang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Sehingga, dalam melakukan penyelidikan, Polri harus hati-hati dan benar-benar melihat ada tidaknya unsur pidananya.

"Persoalan ini sensitif sehingga kita harus benar-benar bisa melihat ini ada atau tidak tindak pidananya. Maka semua para pelapor-pelapor itu kita mintai keterangan," kata Ari Dono.

Menurut Ari Dono sebanyak 22 saksi sudah diminta keterangan terkait kasus ini. Baik saksi yang ada di tempat kejadian perkara di Kepulauan Seribu, juga saksi yang membuat video.

"Kemudian dari semua itu apa sesuai dengan visual yang direkam lalu kemudian setelah itu baru kita mintai keterangan. Durasi mana yang membuat dikatakan seperti itu," kata Ari.

Penyelidik juga akan meminta pendapat ahli forensik. "Nah dari situ baru kita ambil ahli forensik. Apakah betul pengambilan ini. Koreksi digital. Setelah itu baru ahli pidana. Kalau ahli agama ya tentu kita dengar keterangannya tapi nanti fokusnya ke ahli pidana," kata Ari Dono.

Hingga saat ini total 22 orang saksi dan ahli yang diperiksa Bareskrim Polri atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Bareskrim masih mendalami ada tidaknya dugaan pidana Ahok saat menyampaikan pidato yang menyebut Surat Al-Maidah ayat 51 .

"Nanti kita akan melihat apakah ini ada pidana atau tidak. Karena kan ini masih penyelidikan," kata Komjen Ari Dono.


(erd/tor)