DetikNews
Senin 31 Oct 2016, 19:34 WIB

Wapres JK Bicara Soal 2 Tahun Kinerja Kabinet, Ini Penilaiannya

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Wapres JK Bicara Soal 2 Tahun Kinerja Kabinet, Ini Penilaiannya Foto: Ari Saputra
Jakarta - Dua tahun usia pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla, kinerja Menteri Kelautan dan Perikatan Susi Pudjiastuti dinilai paling 'bersinar'. Susi dianggap berhasil dalam hal penegakan hukum dengan penenggelaman kapal asing pencuri ikan di perairan Indonesia.

Bagaimana penilaian Wakil Presiden Jusuf Kalla atas kinerja menteri di Kabinet Kerja?

Menurut JK, sebuah kementerian tak bisa berdiri sendiri dalam menjalankan program pemerintah. Perlu kerja sama dengan kementerian lainnya. Bila ada beberapa kalangan yang menilai kinerja Kementerian KKP paling sukses, Wapres JK tak sepakat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan misalnya, sukses dalam hal penegakan hukum tapi belum berhasil meningkatkan ekspor ikan. "Secara jujur itu keberhasilan (Menteri Susi) menegakkan hukum, tapi sisi lain ukurannya bagaimana ekspor ikan tangkap kita. Bagaimana ekspor pusat perikanan, minta maaf menurun." kata JK dalam sesi wawancara khusus dengan detikcom, Jumat (28/10/2016).

JK mengatakan keberhasilan Kementerian Perikanan dan Kelautan tidak hanya diukur dari banyaknya jumlah kapal yang ditenggelamkan, tapi juga dari sisi produktifitas.

"Kalau yang tangkap menurun. Artinya seperti itu, ekspor kita menurun di perikanan," ucapnya.

Secara umum, JK mengatakan tidak ada kementerian yang berdiri sendiri karena semuanya harus dapat bekerja sama. Sebagai contoh lain, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tidak ada bekerja tanpa adanya pemasukan dari pajak atau masuk dalam pembebasan lahan.

Keberhasilahan kementerian tidak dapat diukur secara sektoral karena setiap kementerian memiliki penilaiannya tersendiri. Beberapa kementerian mengurus soal manusia, pendidikan dan kesehatan dan di sisi lain kementerian lainnya mengurus infatsruktur, perhubungan.

"Tentu penilaian berbeda-beda dan satu penilaian itu kadangkala jangka panjang. Kita ukur pendidikan, kita tidak bisa mengatakan bangun sekolah ya berhasil, tidak. Kita bicara ekonomi tentu juga apakah itu perdagangan investasi semua menyangkut banyak hal," terangnya.

Apalagi, lanjut JK, sistem otonomi membuat ukuran keberhasilan diukur hingga ke daerah. Indonesia harus diukur secara utuh. Secara keseluruhan, pertumbuhan Indonesia sebesar 5 persen.

Pertumbuhan ini lebih baik dari pertumbuhan Singapura, Malaysia, tetapi masih kalah dari pertumbuhan India dan Filipina. "Berarti ada sesuatu yang harus diperbaiki. Ukurannya antara lain tingkat kemiskinan," kata JK.

Khusus dalam bidang ekonomi, Indonesia tidak bisa mengukur keberhasilannya atas penilaian sendiri karena hal itu juga terpengaruh dari kondisi di luar negeri.

"Kenapa ekspor kita turun bukan karena kita tidak mau mengekspor, tapi harganya turun. Mungkin dia punya volume tidak turun. Cuma hasilnya turun. Seperti sawit, secara volume tidak turun tapi harganya menurun. Jadi kemudian di statistik menurun, itu berbicara ekonomi," terangnya.
(erd/erd)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed