Balada 'Manusia Cangkul': 3 Hari Tak Dapat Order Terpaksa Utang untuk Makan

Kisah 'Manusia Cangkul'

Balada 'Manusia Cangkul': 3 Hari Tak Dapat Order Terpaksa Utang untuk Makan

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
Selasa, 04 Okt 2016 16:33 WIB
Foto: Muhammad Fida Ul Haq/detikcom
Foto: Muhammad Fida Ul Haq/detikcom
Jakarta - Enam jam sudah sebelas pria yang sebagian paruh baya itu menunggu di sebuah trotoar tak jauh dari Pasar Modern Bintaro di Tangerang Selatan. Mereka, para 'manusia cangkul' itu, sejak pukul 07.00 WIB pagi menunggu orderan dari warga yang tinggal di perumahan di sekitar Bintaro untuk mengerjakan galian septic tank, galian pondasi, membersihkan got atau menyiangi rumput di halaman.

Pukul 09.00 WIB ada pemborong bangunan yang mengorder lima dari mereka untuk mengerjakan galian pondasi. Selebihnya, hingga lepas tengah hari, enam orang 'manusia cangkul' itu hanya duduk-duduk atau terkadang tiduran di atas rerumputan di pinggir trotoar.

Balada 'Manusia Cangkul': 3 Hari Tak Dapat Order Terpaksa Utang untuk MakanBalada 'Manusia Cangkul': 3 Hari Tak Dapat Order Terpaksa Utang untuk Makan


Cangkul dan pengki tergeletak tak jauh dari posisi mereka. "Hari ini belum ada orderan," kata Gusmawan (79) lirih, salah seorang 'manusia cangkul' saat berbincang dengan detikcom, Senin (3/10/2016). Gusmawan sudah 6 tahun menjalani profesi 'manusia cangkul'.

Bukan sehari dua hari mereka tak dapat order. "Kadang tiga hari saya nggak dapat order," tambah Gusmawan. Walhasil ketika order tak didapat, Gusmawan dan 'manusia cangkul' lainnya terpaksa berutang di warung nasi langganan untuk makan.

Nanti setelah dapat orderan, utang baru dibayar. Untuk sekali makan, biasanya mereka menghabiskan Rp 6.000 dengan menu nasi, sayur dan lauk tahu atau tempe.

Balada 'Manusia Cangkul': 3 Hari Tak Dapat Order Terpaksa Utang untuk MakanBalada 'Manusia Cangkul': 3 Hari Tak Dapat Order Terpaksa Utang untuk Makan


Di tempat sama ada Lani (45) yang juga tengah menunggu orderan. Tak jauh dari mereka ada Rastoni (65) yang berjalan seorang diri menyusuri trotoar untuk mencari pelanggan. Menjadi 'manusia cangkul', penghasilan Gusmawan, Lani dan Rastoni tentu tak menentu.

Penghasilan mereka bergantung dari ada tidaknya warga di perumahan sekitar Bintaro yang memberikan order kerjaan. Untuk sekali pekerjaan seperti membuat galian pondasi dan septic tank, membersihkan got atau menyiangi rumput mereka mendapatkan upah Rp 60 hingga Rp 70 ribu.

Mereka akan mendapatkan penghasilan lebih besar jika mendapat orderan dari pemborong proyek. Biasanya pemborong meminta
mereka mengerjakan secara bersamaan. "(Kerja) untuk proyek biasanya bareng-bareng. Nanti rembukan sama mandor soal harga borongan. Biasanya (per orang) dapat Rp 90 ribu," kata Lani.

Gusmawan, Lani dan Rastoni berasal dari satu daerah yakni Brebes, Jawa Tengah. Di kota bawang itu mereka juga berprofesi sebagai buruh tani. Mereka tak punya sawah, sehingga bekerja dengan sejumlah petani bawang di Brebes. Saat di Brebes sedang tak musim tanam atau panen bawang, mereka ke Tangerang Selatan untuk menjadi 'manusia cangkul'.

Mengapa tak memilih ke Jakarta?

"Sama saja, di sini juga sama. Mendingan di sini dari pada di Jakarta," jawab Lani. (erd/tor)