detikNews
Selasa 04 Oktober 2016, 12:57 WIB

Rastoni si 'Manusia Cangkul' Ngontrak Rp 40 Ribu per Bulan, Seperti Apa Wujudnya?

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
Rastoni si Manusia Cangkul Ngontrak Rp 40 Ribu per Bulan, Seperti Apa Wujudnya? Rastoni (Foto: Dewi R/Pembaca detikcom)
Jakarta - Rastoni yang berprofesi sebagai 'manusia cangkul' di seputar Bintaro, Tangerang Selatan menyewa sebuah tempat seharga Rp 40 ribu per bulan untuk sekadar istirahat. Pada Jumat (30/9/2016) pekan lalu, detikcom melihat langsung kondisi kontrakan Rastoni.

Kontrakan Rastoni tak jauh dari tempat biasanya dia 'mangkal' mencari pelanggan di depan Pasar Modern, Bintaro, Tangerang Selatan. Untuk menuju lokasi tersebut bisa dengan melintasi sebuah gang yang terletak persis di sebelah Masjid Al Aqsha di Cluster Permata Bintaro.

Rastoni si 'Manusia Cangkul' <i>Ngontrak</i> Rp 40 Ribu per bulan, Seperti Apa Wujudnya?
Rastoni (Foto: Dewi R/Pembaca detikcom)


Sekitar 300 meter dari Masjid Al Aqsha terdapat sebuah bedeng yang menempel di halaman samping sebuah warung nasi. Di sinilah Rastoni bersama 3 orang temannya yang sama-sama berprofesi sebagai 'manusia cangkul' ngontrak.

Tak ada kursi atau pun tempat tidur di kontrakkan Rastoni. Sebuah papan kayu yang disusun menyerupai meja makan berukuran 2 x 1,5 meter dipakai untuk tempat tidur berdua dengan temannya. Tak ada dinding tembok dan lantainya pun hanya berupa tanah berdebu.

Sebuah terpal lusuh dipasang mengelilingi tempat tidur Rastoni agar tak terlihat dari luar dan terlindung dari angin malam. Kamar mandi berada di dalam warung makan dan digunakan beramai-ramai.

"Saya ngontrak Rp 40 ribu per bulan. Tapi ya begini tempatnya. Nggak ada macam-macam (barang)," kata Rastoni saat berbincang dengan detikcom, Jumat (30/9/2016).

Hari sudah beranjak menuju sore saat detikcom berbincang dengan Rastoni yang hari itu tak mendapatkan pelanggan. Separuh hari berjalan di seputar Bintaro tanpa ada yang menggunakan jasanya untuk menyiangi rumput, membuat galian atau membersihkan got, Rastoni kembali ke kontrakkannya.

Di atas dipan kayu dengan alas kasur tipis lusuh itu tubuhnya yang keriput dan mulai ringkih merebah. Rastoni yang tak lagi muda nampak lelah meski tak ada pekerjaan hari itu.

Sementara di luar langit Jakarta mulai menguning tanda senja akan segera datang. Di jalanan kendaraan roda dua dan mobil saling adu cepat agar lekas sampai di rumah dan berkumpul bersama keluarga.

Saat temaram lampu kota mulai dinyalakan, Rastoni dan kawan-kawannya duduk berbincang-bincang di bedeng yang mereka kontrak. Dari dalam warung nasi di samping bedeng, sayup-sayup terdengar lantunan lagu, 'Titip Rindu Buat Ayah' yang dipopulerkan Ebiet G Ade.

"Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia,"



(erd/erd)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com