Cerita Kakek 'Manusia Cangkul' yang Dua Pekan Tanpa Hasil Uang Sepeser

Kisah 'Manusia Cangkul'

Cerita Kakek 'Manusia Cangkul' yang Dua Pekan Tanpa Hasil Uang Sepeser

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
Selasa, 04 Okt 2016 11:58 WIB
Rastoni (Foto: Dewi R/Pembaca detikcom)
Rastoni (Foto: Dewi R/Pembaca detikcom)
Jakarta - Rastoni (65) merebahkan tubuhnya di atas dipan serupa meja makan berukuran 2 x 1,5 meter pada Jumat (30/9/2016) lepas tengah hari. Bulir-bulir keringat membasahi sebagian tubuhnya yang keriput dan mulai ringkih.

Separuh hari sudah dia habiskan untuk berjalan kaki di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Namun hingga lepas Salat Jumat tak ada satu pun yang menggunakan jasanya untuk sekadar menyiangi rumput, membuat galian septic tank atau pondasi.

Rastoni yang berprofesi sebagai 'manusia cangkul' itu tak bisa berharap bahwa kerjaan akan datang setiap hari. Bila lagi sial, dia bisa 'nganggur' sampai dua pekan. Padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk 'menjemput' pelanggan.

Dia mencoba berpisah dengan teman-temannya sesama 'manusia cangkul' yang hanya menunggu pelanggan di titik-titik tertentu di Bintaro. Dengan cangkul dan pengki di tangan, Rastoni yang tak lagi muda berjalan kaki menyusuri jalanan sepanjang Bintaro sampai Bumi Serpong Damai. Kadang-kadang malah sampai Graha Raya, Ciputat dan Pamulang.

Sayang meski memisahkan diri dari kawan-kawannya untuk menjemput pelanggan, belum tentu pekerjaan di dapat. Bukan sehari
dua hari saja Rastoni berjalan kaki Bintaro-BSD tanpa hasil. Pernah suatu ketika, dua pekan dia tak dapat kerjaan meski berjalan kaki ratusan langkah.

Jika dua minggu tiada yang menggunakan jasanya, Rastoni tentu tak ada uang untuk sekadar bersantap siang. Beruntung ada warung yang bersedia memberikan kas bon terlebih dulu. "(makan) Tinggal minta ditulis saja di buku di warung. Ntar kalau dapat uang baru bayar," kata Rastoni saat berbincang dengan detikcom, Jumat (30/9/2016).

Seperti Jumat pekan lalu itu, ketika hari sudah mulai beranjak menuju sore pekerjaan yang diharap tak kunjung tiba. Walhasil, bapak dua anak dan dua cucu itu pun harus pulang ke kontrakkanya dengan tangan hampa.

"Ya ngider saja dari sini sampai pasar modern. Ini barusan pulang karena gak ada kerjaan," kata Rastoni.

Meski tak lagi muda, Rastoni nekat merantau dari kampung halamannya di Tanjung Rahayu, Brebes Jawa Tengah untuk merantau ke Jakarta dan Tangerang Selatan. "Kalau saya tidak kerja, nanti nggak bisa ngasih uang makan anak istri," kata dia. (erd/erd)