detikNews
Selasa 04 Oktober 2016, 11:06 WIB

Kisah 'Manusia Cangkul'

Tak Mau Merepotkan Anak, Kakek Ini Terima Jadi 'Manusia Cangkul'

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
Tak Mau Merepotkan Anak, Kakek Ini Terima Jadi Manusia Cangkul Foto: Dewi R/Pembaca detikcom
Jakarta - Dewi Rachmayani bersiap meninggalkan Pasar Modern Bintaro di Tangerang Selatan pada Rabu (28/9/2016) usai bersantap pagi dengan salah seorang kawan. Setelah memesan layanan ojek Online, karyawan swasta di bilangan Jakarta Selatan itu menunggu di sebuah trotoar, persis di depan pasar.

Di saat menunggu ojek yang di pesan, di depan Dewi melintas seorang kakek tua dengan pacul di tangan kanan dan pengki di tangan kiri. Badannya yang ringkih nampak berjalan tertatih.

Tak Mau Merepotkan Anak, Kakek Ini Terima Jadi 'Manusia Cangkul' Tak Mau Merepotkan Anak, Kakek Ini Terima Jadi 'Manusia Cangkul'


Dewi yang memiliki seorang ayah berusia seperti kakek tersebut merasa terenyuh. Disapanya sang kakek yang mulai renta itu. "Bapak mau ke mana?" tanyanya.

"Mau kerja bu," jawab sang bapak.

Dewi bingung dengan cangkul dan pengki, kerjaan seperti apa yang akan dicari sang kakek. Dari dialog singkat tersebut diketahui bahwa ternyata si kakek tersebut bernama Rastoni (65) yang berprofesi sebagai 'manusia cangkul' alias tukang buruh serabutan di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Pria dengan satu putra, satu putri dan dua cucu itu menjalani profesi sebagai 'manusia cangkul' karena tak ingin merepotkan anak-anaknya. Meski usia tak lagi muda, Rastoni tetap gigih mencari nafkah.

Pagi itu Rastoni berjalan mencari orang yang menggunakan jasanya untuk menggali pondasi, menyiangi rumput atau pekerjaan kasar lainnya. Tak mudah bagi Rastoni untuk mencari pelanggan.

Rastoni yang berasal dari Brebes Jawa Tengah itu tak sendirian menjadi 'manusia cangkul' di Bintaro. Ada belasan orang berprofesi sama dengan dia. Biasanya mereka berkelompok di sejumlah titik di Bintaro untuk mencari pelanggan.

Tak puas menunggu, Rastoni mencoba memisahkan diri dari kelompoknya. Dengan cangkul dan pengki di tangan dia berjalan kaki
dari Bintaro sampai kawasan Bumi Serpong Damai. "Dia cerita pernah dua minggu nggak dapat apa-apa," cerita Dewi kepada detikcom, Selasa (4/10/2016).

Jika dua minggu tiada orang yang menggunakan jasanya, Rastoni tentu tak ada uang untuk sekadar bersantap siang. Beruntung ada warung yang bersedia memberikan kas bon terlebih dulu. "Dia ngutang dulu, nanti kalau ada yang pakai jasa baru dibayar," kata Dewi.

Bekerja serabutan dengan pendapatan tak tentu, Rastoni tak mampu menyewa tempat tinggal yang layak. Dia terima tinggal di sebuah ruangan berdinding kayu yang menempel di sebuah warung makan. Harga sewa tempat yang disewa Rastoni Rp 10 ribu per minggu.

Ruangan yang disewa Rastoni dan kawan-kawannya sebenarnya bukan rumah tinggal, melainkan hanya bedeng untuk tempat tinggal pekerja proyek. Rastoni tidur di atas papan kayu serupa meja makan berukuran 2 x 1,5 meter.

Di atas papan kayu tanpa kasur itulah Rastoni bersama seorang kawannya melepas lelah setelah seharian menjadi 'manusia cangkul'.
(erd/erd)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com