Melihat Gedong Songo di Lereng Ungaran yang Pernah Diteliti Raffles

Rivki - detikNews
Selasa, 20 Sep 2016 17:30 WIB
Foto: sidik/detikcom
Semarang - Gedong Songo yang terletak di lereng Gunung Ungaran banyak memancing minat wisatawan untuk datang. Selain belajar sejarah, juga menikmati keindahan alam nan segar.

Gedong songo atau candi yang berjumlah sembilan ini terletak di lokasi terpisah. Ada lima lokasi gedong songo di sekitar lereng Ungaran. Sebelum beranjak lebih jauh menelusuri sejarah candi ini, perlu dicatat, gedong songo terletak di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Sekitar 1 jam menuju lokasi dari Kota Semarang, cukup masuk ke tol ke arah Bawen, dan keluar di gerbang Ungaran. Jalan berliku dan menanjak akan ditempuh sebelum akhirnya sampai ke lereng Ungaran, lokasi Gedong Songo.

Akhir pekan lalu tim detikcom menyambangi kawasan ini. Cukup sulit juga mencari lokasi parkir kendaraan karena banyak wisatawan yang datang, baik dari sekitar Semarang juga dari luar kota dan mancanegara. Masuk ke lokasi membayar tiket Rp 7.500 perorang, untuk wisatawan asing beda tarifnya.

Bila di Candi Borobudur, ada banyak penjelasan dan disediakan pemandu, sayangnya di Gedong Songo ini tak ada hal demikian. Paling Anda ditawari sewa kuda Rp 80 ribu, di mana si tukang kuda juga bisa menjadi pemandu. Nah, biasanya wisatawan ada yang memilih naik kuda dan ada juga yang berjalan kaki, hitung-hitung berolahraga ke komplek candi ke lima di puncak 'nirwana' lokasi yang paling tinggi.

Merunut sejarahnya, Gedong Songo yang merupakan candi hindu ditemukan oleh Loten, pada 1740. Kemudian, Gubernur Thomas S Raffles menuliskannya dan memberi nama gedong pitoe (tujuh) karena hanya menemukan 7 kelompok bangunan pada 1804.

Tapi kemudian diberi nama gedong songo, berdasarkan reruntuhan yang ditemukan. Gedong songo ini sendiri dibangun pada abad ke 7 masehi di masa mataram kuno dan memiliki kaitan dengan komplek candi di Dieng. Beberapa bangunan di komplek ini terlihat tinggal reruntuhan, konon karena bencana alam. Beberapa bagian candi juga terlihat diusik tangan jahil.

Untuk ukiran arca, masih bisa terlihat di beberapa candi. Ada juga yang sudah memudar. Di candi komplek nomor tiga, arca masih terlihat jelas. Komplek candi nomor tiga ini berada di tengah, dan tak jauh dari pemandian air panas dasamuka. Bau belerang memang menyengat di komplek nomor tiga ini.

Yang perlu diperhatikan juga, lokasi yang di lereng gunung tentu membutuhkan tenaga ekstra untuk mencapai tiap komplek candi. Tapi tak usah khawatir, banyak terdapat tukang minuman serta tempat duduk untuk beristirahat sebelum melakukan perjalanan hingga ke puncak yang tertinggi.

(dra/dra)