Sehari Bersama Fethullah Gulen

Gulen: Doakan Turki Normal Kembali

Arifin Asydhad - detikNews
Kamis, 25 Agu 2016 16:34 WIB
Fethullah Gulen di kamp kediamannya/Foto: Arifin Asydhad
Pennsylvania, - Kondisi Turki pasca percobaan kudeta 16 Juli 2016 sangat memprihatinkan. Selain kasus politik, ekonomi Turki juga mengkhawatirkan. Sektor pariwisata juga terdampak, padahal Turki merupakan salah satu destinasi wisata yang memikat dunia. Dari semua itu, situasi politik Turki yang paling memprihatinkan. Ulama kharismatik Turki Fethullah Gulen memohon doa dari masyarakat Indonesia agar Turki normal kembali.

"Terima kasih atas kunjungannya ke sini. Salam untuk masyarakat Indonesia. Tolong doakan agar Turki segera kembali normal," kata Gulen saat beberapa jurnalis dari Indonesia pamit dari Kamp Golden Generation, Worship and Retreat Center (GGWRC) di pedesaan Pensylvannia, Amerika Serikat, Minggu (21/8/2016) sore hari seusai salat asar berjamaah.

Suasana hijau di kamp yang ditinggali Gulen
Kamp GGWRC merupakan tempat tinggal Gulen sejak 17 tahun terakhir. Dia menempati salah satu ruang di gedung utama. Gulen menyingkir dari keramaian Turki sejak 1999 dan mendedikasikan hidupnya untuk Islam. Dia tidak menikah dan setiap hari memberikan pengajaran tentang Islam di kamp ini kepada murid-muridnya. Mayoritas muridnya adalah warga Turki.

Meski sudah menyingkir dari Turki sejak lama, namun Gulen selalu dikaitkan dengan kegiatan politik di Turki. Terakhir, dia disebut Presiden Erdogan sebagai dalang kudeta 16 Juli 2016. Erdogan juga meminta Presiden Barack Obama untuk mengekstradisi Gulen untuk dibawa ke Turki. Sementara di Turki, Gulen yang sejak 1960an menggeluti dakwah sudah divonis pengadilan dengan hukuman seumur hidup atas persoalan yang tidak jelas.

Para pengikut Gulen di Turki kini mengalami intimidasi dari pemerintah Erdogan. Sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan yang mereka dirikan ditutup sepihak oleh Erdogan. Sebagian mereka ditangkap, para guru pun menganggur. Para pengikut Gulen yang menjadi pengusaha juga bernasib sama. Perusahaan mereka diperiksa dan ditutup. Media-media dan penerbit buku milik pengikut Gulen juga ditutup. Bahkan, media Zaman Group yang didirikan pengikut Gulen dan salah satu media besar di Turki juga sudah ditutup jauh-jauh hari. Kini, hanya media-media yang sudah dikendalikan Erdogan yang masih beroperasi. Hanya sedikit sekali media independen yang dibiarkan tetap beroperasi. Media independen pun tidak berani melakukan kritik, karena kalau mengkritik akan berhadapan dengan penjara. Begitu juga dengan tokoh-tokoh kritisnya.

Buku 'Hizmet: Question and Answers on The Gulen Movement'
Mantan pemain bola yang pernah menjadi anggota parlemen, Hakan Sukur, juga telah diperintahkan ditangkap. Hakan Sukur saat ini juga telah meninggalkan Turki dan tinggal di Amerika. Tidak berhasil menangkap Hakan, pemerintah Erdogan dikabarkan menangkap dan memenjarakan orangtua Hakan yang sudah tua. Buku-buku Gulen yang berisi inspirasi banyak hal termasuk pemahaman Islam juga dilarang beredar di Turki. Pembaca buku Gulen juga bisa masuk penjara. Kini, pemerintah Turki berencana akan membebaskan puluhan ribu narapidana, karena ruang tahanan sudah tidak mencukupi bagi ribuan Gulenis yang sudah ditangkap karena dituding terlibat kudeta.

Alp Aslandogan, Executive Director Alliance of Shared Values, yang menjadi juru bicara Gulen mengatakan bahwa Gulen sangat sedih dan sangat sakit hatinya melihat perkembangan Turki saat ini. Masa depan Turki akan hilang ditelan Bumi bila Presiden Erdogan masih memerintah dengan cara-cara seperti ini. "Saya tidak tahu sampai seberapa lama Turki akan begini. Yang pasti, dalam waktu dekat ekonomi Turki akan hancur," kata Alp.

Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah Turki untuk mendiskreditkan Gulen. Padahal Gulen tidak ikut campur dalam persoalan politik dalam negeri Turki. Ancaman-ancaman sudah banyak diterima Gulen dan pengikutnya. Erdogan telah meminta Pemerintah Amerika Serikat melakukan ekstradisi Gulen, meski hingga pemerintah AS telah menolak. Paspor-paspor ribuan pengikut Gulen yang hidup di luar negeri juga dicabut. Alp sangat yakin bahwa AS tidak mengekstradisi Gulen. Permintaan ekstradisi terhadap Gulen juga tidak hanya kali ini saja.

Gulen meminta masyarakat Indonesia, yang mayoritas umat Islam ikut mendoakan Turki. "Saya belum sempat berkunjung ke Indonesia. Insya Allah nanti saya akan ke Indonesia, bila memang ada kesempatan. Salam saya untuk masyarakat Indonesia," kata Gulen yang memang hampir tidak pernah meninggalkan kamp tempat tinggalnya ini.


(asy/fjp)