Sehari Bersama Fethullah Gulen

Melihat Gerakan Hizmet Para Gulenis

Arifin Asydhad - detikNews
Kamis, 25 Agu 2016 13:02 WIB
Ant Bookstores yang didirikan Gulenis/Foto: Arifin Asydhad
Pennsylvania, - Kekuatan para pengikut Fethullah Gulen alias Gulenis adalah pada gerakan Hizmet. Gerakan pelayanan untuk mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit ini meluas hingga ke 170 negara, selain juga berkembang pesat di Turki. Gerakan ini meluas tanpa dikomando, mereka menyisihkan sebagian pendapatannya untuk bersama-sama merancang, membangun, dan mengelola lembaga pendidikan, kesehatan dan ilmu pengetahuan.

Yang paling terlihat dari gerakan Hizmet adalah berdirinya sekolah-sekolah dan juga lembaga-lembaga pendidikan, seperti bimbingan belajar dan tempat kursus. Ada ribuan sekolah yang sudah dibangun Gulenis di 170 negara. Di situ ada warga Turki, maka di negara itu berdiri sekolah Turki. Di Indonesia, misalnya, sekolah yang didirikan para pengikut Gulen berjumlah sekitar 12 sekolah, tersebar di beberapa kota.

Buku 'Hizmet: Question and Answers on The Gulen Movement'
Dalam buku 'Hizmet: Question and Answers on The Gulen Movement' yang ditulis oleh Muhammed Cetin disebutkan bahwa Hizmet berarti pelayanan. Gerakan Hizmet juga dikenal dengan Gulen Movement atau Movement. Ada 6 fokus gerakan Hizmet yang dilakukan para Gulenis, yaitu:

1. Pendidikan, yaitu membangun dan mengelola taman kanak-kanak hingga universitas

2. Kesehatan, membangun RS, poliklinik, dan pusat kesehatan dan diagnosa

3. Media, mendirikan dan mengelola media massa TV, cetak, dan online, serta menerbitkan jurnal-jurnal

4. Penerbitan, mendirikan perusahaan penerbitan, perusahaan percetakan, toko buku, dan perusahaan desain grafis

5. Bisnis dan Keuangan, mendirikan dan mengelola bank, perusahaan asuransi, asosiasi bisnis regional dan internasional, biro konsultan dan SDM, dan resort untuk wisata

6. Bantuan kemanusiaan dan donasi, mendirikan organisasi bantuan lokal, regional, dan internasional, pusat baca dan studi, bantuan untuk atasi kemiskinan, klub perempuan, pusat kebudayaan, dan pusat dialog antar agama

Di Amerika Serikat, para gulenis mendirikan banyak sekolah, baik sekolah swasta (private) yang berkualitas tinggi dan berbiaya mahal, maupun sekolah negeri (publik) yang mendapatkan subsidi pemerintah Amerika. Selain itu juga dibangun Turkish Cultural Centre di New Jersey, sebagai tempat dan aktivitas nirlaba yang memberikan pelayanan dalam mengenalkan kebudayaan Turki.

Turkish Cultural Centre
Semua pembangunan sekolah maupun Turkish Cultural Centre dibiayai oleh para Gulenis, tanpa ada bantuan finansial dari pemerintah Turki. Para Gulenis, terutama para pengusaha yang sukses dan tersebar di berbagai dunia berdonasi menyisihkan sebagian pendapatannya untuk gerakan Hizmet ini.

Gedung Pioneer Academy yang didirikan Gulenis
Di Indonesia, para Gulenis juga mendirikan sekitar 12 sekolah yang tersebar di beberapa kota. Sekolah-sekolah yang mereka bangun adalah sekolah umum yang berorientasikan pada ilmu pengetahuan dan relijiusitas. Siswa yang bersekolah di sekolah Turki bukan saja dari golongan muslim, tapi juga dari penganut agama lain. Sekolah-sekolah Turki yang ada di Indonesia, pada umumnya memang sekolah favorit, yang lulusannya bisa melanjutkan ke universitas di luar negeri.

Perkembangan sekolah Turki di Indonesia termasuk pesat dan mendapat respons yang sangat baik. Dalam waktu dekat, para Gulenis juga akan mendirikan Turkish Cultural Centre di Indonesia, yang ditujukan sebagai pusat kebudayaan Turki. Masyarakat Indonesia bisa melihat dan mempelajari budaya-budaya Turki. "Insya Allah dalam waktu dekat di Lebak Bulus," kata salah seorang Gulenis, Kamis (25/8/2016).

Dalam berbagai kesempatan, Fethullah Gulen berpesan mengenai pentingnya membangun lembaga pendidikan. Gulen yang seorang hafidz Al Quran dan Al Hadits ini menekankan pentingnya pendidikan umum seperti ilmu Matematika, Fisika, Kimia, dan sebagainya, selain juga ilmu agama. Gulen juga menekankan pentingnya moral dalam menghormati sesama, toleransi, harmonisasi, dan menjauhkan diri aksi kekerasan.

Gerakan Hizmet ini menjadi gerakan viral para Gulenis di mana pun berada. Tidak semua Gulenis pernah bertemu Fethullah Gulen. Mereka biasanya terinspirasi setelah membaca buku Gulen atau mendapatkan informasi dan ajakan para Gulenis lainnya.

Gerakan Hizmet ini dimulai sejak 1970an, di saat Gulen masih aktif sebagai penceramah (dai) dan menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Dia berdakwah di berbagai kota di Turki. Dia sempat ditahan pemerintah Turki yang sekuler gara-gara dakwahnya. Pada 1999, Gulen pindah ke Amerika Serikat dan menetap di Kamp Golden Generation, Worship and Retreat Center (GGWRC) di sebuah pedesaan Pensylvannia. Di kamp ini, Gulen yang saat ini berusia 75 tahun tetap berdakwah dan mengajarkan ilmu agama Islam kepada murid-muridnya. Meski Gulen di Amerika, namun gerakan Hizmet terus berkembang di Turki. Fethullah Gulen menjadi ulama yang makin disegani.

"Tidak ada sama sekali uang dari keuntungan gerakan Hizmet yang diberikan kepada Gulen," kata Osman, salah seorang pengurus di GGWRC, Minggu (21/8/2016) lalu. Pendapatan Gulen untuk biaya hidupnya hanya berasal dari royalti buku-bukunya, yang saat ini juga sudah tidak didapatkannya, karena penerbit bukunya di Turki juga ditutup oleh pemerintah.

Pada tahun 1998, seiring pengikutnya yang semakin banyak, Gulen sempat didatangi Recep Tayyip Erdogan yang meminta saran mendirikan partai politik Islam, yaitu Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party/AKP). Gulen menyambut baik, asal Erdogan benar-benar bisa membangun partai politik Islam yang benar. Tapi, menurut Gulen, saat itu ternyata Erdogan punya keinginan lain, yatu ingin menjadi amirul mukminin.

Namun Gulen tidak mau menyebut Erdogan sebagai amirul mukminin, begitu juga para Gulenis. Saat itulah, kata Gulen, Erdogan marah dan sempat menyatakan Hizmet akan dihabisi. Meski begitu, para Gulenis di akar rumput diyakini ikut juga memenangkan AKP dan Erdogan sebagai perdana menteri pada 2002 lalu. Kemenangan AKP dan Erdogan saat itu dimaknai oleh dunia Islam sebagai kemenangan umat Islam dan kembalinya Islam di Turki setelah sekian lama tenggelam oleh sekulerisme.

Fethullah Gulen di kediamannya
Lambat laun ketidaksukaan Erdogan terhadap Gulen dan gerakan Hizmet semakin subur, terutama saat muncul dugaan kasus korupsi terhadap Erdogan dan keluarganya menjelang akhir periode Erdogan sebagai perdana menteri untuk ketiga kalinya. Kekayaan Erdogan diketahui meningkat pesat, termasuk memiliki perusahaan kapal yang diatasnamakan anaknya yang saat itu masih kuliah. Ada bukti juga dana miliaran dollar Amerika yang mengalir dari rekening keluarga Erdogan ke luar negeri. Namun, kasus dugaan korupsi yang sempat ramai ini menguap begitu saja.

Kritik dan protes publik terhadap Erdogan juga makin kuat setelah dia juga masih ingin melanggengkan kekuasaannya dengan menjadi presiden. Saat itu, ada pengubahan sistem yang menetapkan Presiden lebih berkuasa dibanding perdana menteri, karena presiden dipilih langsung oleh rakyat. Kemenangan Erdogan dalam Pemilu dan kemudian menjadi Presiden pada 2014 lalu juga dinilai berbau kecurangan. Apalagi saat itu sempat muncul black out (listrik padam) pada saat penghitungan suara.

Kebijakan-kebijakan Erdogan semakin tidak berpihak pada Gulenis sampai puncaknya pada upaya kudeta 16 Juli 2016. Siapa di balik upaya kudeta? Erdogan serta merta dan cepat menuding Gulen sebagai dalangnya. Sementara ada analisa yang menyebut ini akal bulus Erdogan untuk memantapkan kekuasaannya di Turki. Di media sosial, meme bahwa Erdogan di balik kudeta ini muncul secara viral. Gulen juga menilai Erdoganlah yang membuat skenario kudeta. Kini, para Gulenis dianggap terlibat kudeta, ditangkap dan dipenjara. Penjara tidak cukup menampung ribuan Gulenis yang ditangkap. Karena itu, Erdogan akan mempercepat pembebasan puluhan ribu narapidana untuk bisa menampung para Gulenis itu.

Sebuah babak baru pemerintahan Turki yang memprihatinkan. Tidak ada pihak yang berani bersuara lantang dan mengkritisi Erdogan. Media massa dikendalikan oleh Erdogan. Media-media yang didirikan Gulenis ditutup, sementara media-media independen lainnya diambil alih. Orang yang kritis dianggap sebagai Gulenis dan dianggap terlibat kudeta dan ditangkap. Dua mahasiswa asal Indonesia yang kedapatan menginap di gedung yayasan Gulenis juga ditangkap baru-baru ini. Erdogan dinilai makin tidak demokratis, represif, dan otoriter.


(asy/fjp)