Menyapa Mantan Menteri

Gebrakan-gebrakan Sudirman Said Sang 'Saudara Pengadu'

Ahmad Toriq - detikNews
Kamis, 18 Agu 2016 15:05 WIB
Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Sepak terjang Sudirman Said selama menjadi Menteri ESDM banyak menuai apresiasi. Berbagai gebrakan dilakukan, mulai dari penggeseran subsidi BBM, efisiensi pasokan energi, membubarkan Petral, dan membongkar skandal Papa Minta Saham.

Dari daftar prestasi itu, mungkin paling diingat publik adalah soal aksi Sudirman membongkar skandal Papa Minta Saham. Saking besarnya perhatian publik terhadap kasus itu, Sudirman Said sampai dikenal dengan julukan 'Saudara Pengadu'.

(Hasan Alhabshy/detikcom)

Kasus Papa Minta Saham mulai jadi perhatian publik saat Sudirman mengadukan Setya Novanto, yang saat itu duduk sebagai ketua DPR, ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR dengan tuduhan mencatut nama Presiden untuk meminta saham PT Freeport Indonesia. Aduan itu ditindaklanjuti MKD dengan menggelar sidang etik. Sudirman Said berstatus sebagai pengadu di sidang itu, sedangkan Novanto pihak teradu.

Sebagai pengadu, Sudirman dipanggil pertama oleh MKD. Sidang perdana itu digelar secara terbuka dan diberitakan secara luas, bahkan ditayangkan live oleh sejumlah stasiun televisi. Selama persidangan, Sudirman dipanggil dengan sapaan 'Saudara Pengadu'. Sapaan itu berulang kali terdengar selama persidangan. Di akhir cerita skandal itu, Sudirman bisa dibilang menang, dan Novanto tumbang. Novanto akhirnya mengundurkan diri dari posisinya sebagai Ketua DPR setelah 17 hakim MKD menyatakan dia bersalah.


Meski cerita skandal itu selesai di meja sidang MKD, namun kasus Papa Minta Saham itu masih melekat di benak publik hingga beberapa waktu setelahnya. Sudirman punya cerita lucu terkait kasus itu. Suatu hari, Sudirman melakukan kunjungan kerja ke Tanjung Lesung, Banten. Belum sampai tujuan, helikopter yang dinaiki Sudirman harus mendarat karena hujan lebat. Helikopter itu mendarat di sebuah desa. Di desa itu, Sudirman dan para stafnya mampir ke warung kopi sambil menunggu hujan reda. Awalnya, orang-orang di warung kopi itu tak mengenali Sudirman. Sekitar 15 menit kemudian, seorang pelayan warung kopi tampak berbisik ke rekannya sambil melihat ke arah Sudirman. Si pelayan kemudian menghampiri Sudirman, mengonfirmasi sesuatu.

"Dia tanya, "Bapak ini 'Saudara Pengadu' ya?" Saya bilang bukan, bukan," tutur Sudirman sambil tertawa saat berbincang dengan detikcom di kampung halamannya, Desa Slatri, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (12/8/2016).

Cerita soal 'Saudara Pengadu' tak berhenti di situ. Sudirman Presiden Jokowi juga pernah menggodanya dengan sapaan itu. Ceritanya, di suatu rapat Kabinet Kerja, para menteri diminta melaporkan hasil kerjanya. Sudirman lalu melaporkan hasil kerjanya melakukan penataan di internal Kementerian ESDM.

"Setelah semua menteri menyampaikan, Presiden Jokowi lalu tanya, "Tadi siapa yang bicara soal penataan?" Saya jawab, "Saya, Pak". Presiden bilang, "Oh Saudara pengadu," lalu tertawa semua yang ada di rapat itu," tutur Master Bidang Administrasi Bisnis dari George Washington University, Amerika Serikat, ini.

(Hasan Alhabshy/detikcom)

Selain soal kasus Papa Minta Saham, ada sejumlah aksi Sudirman dan jajaran Kementerian ESDM yang menuai apresiasi. Sudirman membeberkan beberapa di antaranya.

"Sebetulnya yang lebih baik bicara adalah orang lain, tapi kalau boleh empat lima hal yang paling mendasar, sekadar mengapresiasi yang telah dilakukan oleh teman-teman kementerian ESDM yang saya garis bawahi, pertama soal pengalihan subsidi," ujar Sudirman.

Keputusan menggeser subsidi BBM bensin premium merupakan langkah besar yang diambil Pemerintahan Jokowi. Selama ini, penggeseran subsidi hanya jadi wacana, tapi di dengan kepemimpinan Sudirman Said di Kementerian ESDM, wacana itu jadi nyata. Subsidi untuk BBM akhirnya benar-benar digeser untuk sektor lain, salah satunya pembangunan infrastruktur.

"Tahun pertama kita berhasil menggeser subsidi BBM, melakukan efisiensi pasokan energi, membuat keputusan soal Blok Mahakam, memulai program 35.000 MW. Ke dalam kita melakukan konsolidasi organisasi," ulas mantan staf khusus Dirut Pertamina ini.


Gebrakan lain yang dilakukan yaitu pemangkasan izin-izin, pembubaran Petral, dan pengambilalihan kilang TPPI. "Petral dibubarkan membuat Pertamina hemat Rp 6,2 triliun dan lingkungan bisnis lebih sehat," ujarnya.

"Sampai saat ini saya masih kedatangan tamu dari trader-trader besar yang berterima kasih karena setelah pembubaran Petral mereka bisa berdagang dengan Pertamina melalui channel yang fair," imbuh Sudirman.

(tor/fjp)