Merasakan Sensasi Berbuka Puasa Bersama di Tokyo

Fajar Pratama - detikNews
Selasa, 05 Jul 2016 08:05 WIB
Foto: cholil nafis/istimewa
Tokyo - Berbuka puasa di Tokyo, Jepang tentu berbeda dengan berbuka puasa di Indonesia. Di negeri sakura ini pastinya tak ada yang berjualan ta'jil di pinggir jalan jelang berbuka puasa. Tak ada juga hiruk pikuk suasana lebaran.

Namun bagi masyarakat muslim di Tokyo, seperti yang disampaikan Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Cholil Nafis dalam keterangannya, Senin (4/7) malam, suasana ramadan dan jelang lebaran selalu terasa berbeda.

"Komunitas muslim dari Turki, Melayu dan Indonesia di Jepang yang menjalankan ibadah memiliki tradisi buka puasa bersama," jelas Cholil yang beberapa hari ini bersama istrinya mengisi tarawih dan rencananya Idul Fitri di Tokyo.

Menurut dia, masyarakat Turki di Tokyo memiliki masjid yang megah untuk tempat beribadah sekaligus tempat berinteraksi sosial. Namanya Masjid Tokyo Camii. Masjid ini banyak mempromosikan kebudayaan dan ke-Islaman di Turki, namun terbuka untuk umum.

Bahkan perempuan non muslimpun yang tidak menutup aurat diperbolehkan masuk masjid dan disediakan baju panjang yang dapat menutupi aurat saat masuk masjid. Masjid Tokyo Camiii selalu menyediakan buka puasa bersama yang terbuka untuk umum. Kadang para mahasiswa dan masyarakat muslim melakukan silaturahim dengan berbuka puasa di Masjid Tokyo Camii saat di bulan Ramadan. Masjid yang berarsitekstur Turki ini terbesar di Tokyo.

Bagi masyarakat muslim di Tokyo, bulan Ramadan lebih mengintensifkan silaturrahim. Buka puasa menjadi sarana yang paling efektif untuk menjalin keakraban. Ada yang sifatnya mengundang berbuka puasa ke rumah secara bergantian dan ada pula yang rela rumahnya menjadi tempat aktivitas keagamaan selama Ramadan karena tak ada masjid terdekat.

Beruntung bagi Keluarga muslim Indnesia yang hidup di Tokyo dapat memanfaatkan sarana yang di miliki Kedutaan Besar Republik Indonesia, Balai Indonesia. Di samping ada sekolah Indonesia juga ada mushala dan jika acara yang lebih besar dapat menggunakan Aula sekolah yang dapat menampung 600 orang lebih. Masyarakat Indonesia memanfatkannya untuk bersiltaurrahim. Berkat adanya peguyuban Keluarga Mayarat Islam Indonesia (KMII) warga masyarakat muslim Indonesia di Jepang lebih terorganisir dan lebih akrab.

Setiap hari Balai Indonesia menyediakan buka puasa bersama bagi WNI dengan belanja dan memasak secara gotong royong. Selalu banyak yang hadir untuk buka puasa bersama di Balai Indonesia. Biasanya seusai buka puasa bersama dilanjutkan dengan shalat tarawih dan kajian Islam tematis.

Namun pada hari libur, buka puasa bersama selalu ramai, yang hadir tak kurang dari lima ratus orang termasuk pejabat Kedutaan Besar Republik Indonesia ikut hadir berbaur dengan masyarakat yang hadir dari kota Tokyo dan sekitarnya. Biasanya, selain buka bersama diisi dengan kajian dan tabligh akbar yang dilanjutkan dengan shalat tarawih.

"Pada minggu keempat saya mendapat giliran untuk mengisi workshop tentang zakat dan dilanjutkan dengan Tabligh Akbar. Masyarakat berantusias untuk mengikuti acara seraya menjadi ajang silaturahim dan pelepas kangen diantara mereka. Bahkan tampak kepedulian dan kecintaannya pada Tanah Air. Hal ini terlihat dari pertanyaan mereka dalam sesi tanya jawab yang memperhatikan dan ikut memikirkan kemajuan Indonesia, termasuk soal suksesi kepeminan pusat dan daerah," urai dia.

Cholil mengaku ada rasa bahagia yang mendalam bagi WNI pada acara buka puasa bersama. Mereka yang sudah lama tak pulang ke kampungnya di Indonesia dapat merasakan suasana Indonesia pada saat bertemu dengan masyarakat sesame bangsa Indonesia, sehingga dapat melepas kangennya.

"Suasana keagamaan yang dibalut dengan budaya kampung halaman dapat membangun silaturrahim dan kerekatan sesama anak bangsa yang sedang berada di negeri Matahari Terbit," tutup dia. (dra/dra)