DetikNews
Jumat 01 Juli 2016, 11:50 WIB

Indahnya Kebersamaan WNI Muslim di Tengah Sepinya Suasana Ramadan di Jepang

Ananda Muthia Putri - detikNews
Indahnya Kebersamaan WNI Muslim di Tengah Sepinya Suasana Ramadan di Jepang Foto: Dok pribadi Cholil Nafis
Jepang - Tidak bisa mendengar suara azan berkumandang, tidak bisa menonton siaran program Ramadan dan tidak ada hiruk pikuk keramaian menyambut lebaran. Itulah beberapa hal yang dirasakan oleh Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat yang saat ini tengah menjalani puasa di Tokyo, Jepang.

Cholil mengatakan saat hari Lebaran, aktivitas di sana berjalan seperti biasa, warga masih bekerja dan masuk sekolah. Hal itu membuat Cholil dan beberapa WNI muslim lainnya akan merasakan suasana berbeda dalam merayakan Lebaran.

Cholil mengaku, menjalani puasa di Tokyo membuatnya merasa lebih dekat dengan Sang Khalik. Karena mayoritas warga di Tokyo tidak menjalankan ibadah puasa dan hanya sedikit yang mengetahui aktifitas puasa yang dilakukan oleh masyarakat muslim di sana. Restoran-restoran di sana tetap buka di siang hari.

"Sungguh menguji kesabaran berpuasa," ucap Cholil dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (1/7/2016).

Suasana sepi itu terobati saat para WNI Muslim berkumpul bersama di KBRI Tokyo. Suasana Ramadan di sana begitu terasa. Berkumpul dengan saudara-saudara muslim dari Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) membuat suasanya seperti terasa di Tanah Air.

Dok pribadi Cholil Nafis


Di KBRI Jepang, setiap Zuhur, akan dilaksanakan salat berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian. Di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), setiap Maghrib akan diadakan buka puasa bersama dan kegiatan tarawih yang dilanjutkan dengan kajian agama tematik.

"Kegiatan-kegiatan ini membuat suasana keakraban dan silaturahmi antar WNI di Tokyo lebih terasa," ucapnya.

Tokyo yang tahun ini sedang musim panas namun terkadang hujan, memaksa Cholil untuk merubah pola hidupnya dan memindah waktu tidur dari malam menjadi setelah subuh. Waktu Subuh di Tokyo pukul 02:40, Zuhur pukul 11:48, Asar pukul 15:36, Maghrib pukul 19:04 dan Isya pukul 20:51. Kegiatan salat Tarawih biasanya akan selesai pada pukul 22:00 diteruskan dengan kajian sampai pukul 23:30. Karena waktu Subuh sudah dekat, biasanya Cholil akan mengisi waktu dengan berbagai aktifitas sampai sahur dan salat Subuh.

Cholil biasa melakukan kegiatan I'tikaf di penginapan, karena masjid Indonesia di Tokyo masih dalam proses pembangunan. Seluruh aktifitas dan interaksi masyarakat Indonesia di Tokyo dilaksanakan di Balai Indonesia untuk sementara. Pemerintah Tokyo belum menyediakan masjid Jami', meskipun begitu fasilitas salat sudah mulai disediakan seperti di bandara dan di beberapa tempat umum.

Menurut informasi yang didapat Cholil, Lebaran nanti masyarakat muslim akan berkumpul di KBRI dengan jumlah sekitar 10.000 WNI. Suasana puasa yang guyup dan semarak ala ke-Indonesiaan didukung penuh oleh pejabat dan diplomat Kedutaan Besar Indonesia yang dipelopori oleh Keluarga Masyarakat Islam Indonesi (KMII) di Tokyo.

"Berpuasa di negeri Sakura, negeri yang dihuni mayoritas non muslim menemukan sisi khusyu di pojok keheningan dan menemukan kelurga besar di negara orang asing. Mudah-mudahan Allah menerima khidmah amal baik dan memberi berkah hambanya hamba-Nya. Amin," kata Cholil.

Dok pribadi Cholil Nafis

(slm/slm)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed