Penyandang Disabilitas Ditolak Terbang, Ini Kata Menteri Jonan

Dana Aditiasari - detikNews
Kamis, 07 Apr 2016 19:57 WIB
Ilustrasi maskapai Etihad (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -
Dwi Ariyani (36) ditolak oleh maskapai penerbangan Etihad ketika hendak terbang dari Jakarta ke Jenewa pada 3 April 2016. Pihak maskapai menolak Dwi lantaran dia menggunakan kursi roda dan disebut tidak mampu menyelamatkan diri sendiri dalam keadaan darurat.

Pengalaman mengecewakan itu pun dituliskan Dwi dalam petisi di laman change.org. Namun sejurus kemudian, pihak Etihad menyampaikan permintaan maaf dan tengah menyelidiki hal tersebut.

(Baca juga: Etihad Minta Maaf pada Penyandang Disabilitas yang Ditolak Terbang)

Mendengar hal tersebut, Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan mengaku belum bisa banyak berkomentar. Namun setahu Jonan, seharusnya ada pendamping bagi Dwi saat melakukan perjalanan udara.

"Gini, nanti saya lihat petisinya ya. Saya belum baca ya saya tidak berani komentar," ucap Jonan di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (7/4/2016).

"Setahu saya seharusnya ada pendamping atau dilaporkan khusus dari awal semestinya. Tapi saya belum tahu petisinya untuk apa. Itu harus siapkan kursi roda airport-nya, harus ada attendance-nya nanti. Coba nanti saya lihat, nanti kita jawab," ujar Jonan menambahkan.

Sementara itu saat ditemui terpisah, Dirjen Perhubungan Udara Suprasetyo mengatakan kemungkinan Dwi ditolak lantaran tidak ada pendamping. Dia menyebut aturan itu ada di International Air Transport Association (IATA) dan Peraturan Menteri Nomor 61 Tahun 2015 tentang Fasilitas Udara.

"Mungkin tidak ada pendampingnya sehingga tidak memenuhi persyaratan. (Ada aturannya) di IATA juga ada, saya enggak hafal tapi ada. Di PM (Peraturan menteri) saya kurang hafal. Yang jelas di IATA ada dan PM ada, cuma nomornya saya tidak tahu," ucapnya.

Suprasetyo menyebut seharusnya saat penumpang melakukan check in, petugas menanyakan sejumlah prosedur. Dia menduga ada kesalahan prosedur yang dilakukan.

"Harusnya saat check in itu sudah ditanya 'Ini kenapa apakah sakit baru atau sudah lama dan sebagainya? Apakah bisa berjalan sendiri?' Pesawat lain sudah ada (ketentuan begitu). Jadi harusnya saat check in petugas tiketnya menanyakan itu. Pasti ada kesalahan (prosedur)," kata Suprasetyo. (dhn/nrl)