Dituntut 4,5 Tahun Bui, Gatot Pujo Sebut Kasusnya Sarat Muatan Politis

Rina Atriana - detikNews
Rabu, 24 Feb 2016 15:46 WIB
Gatot Pujo Nugroho dan Evy Susanti di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (24/2/2016). Foto: Rina Atriana/detikcom
Jakarta - Gatot Pujo Nugroho kecewa dengan tuntutan 4,5 tahun penjara terkait perkara dugaan suap. Mantan Gubernur Sumatera Utara ini kembali menyebut adanya nuansa politis terkait perkara yang menyeret dirinya dan istri Evy Susanti ke pengadilan.

"Saya meyakini bahwa unjuk rasa yang teman-teman mahasiswa dan LSM lakukan adalah demi kecintaan terhadap bangsa. Tapi ada faktor politik yang didanai oleh pihak-pihak lain untuk menggoyang Sumut 1," ujar Gatot membacakan pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jl Bungur Besar, Jakarta Pusat, Rabu (24/2/2016).

"Itu dari laporan yang kita temukan. Akhirnya unjuk rasa yang dilakukan LSM, ormas, dan mahasiswa inilah yang jadi pemikiran Evy yang setiap hari dishare teman-temannya," imbuhnya.

Unjuk rasa yang dimaksud Gatot adalah terkait dugaan penyelewengan dana bansos di lingkungan Pemprov Sumut. Gatot kemudian mengambil langkah untuk menggandeng OC Kaligis sebagai pengacara pribadinya.

"Terutama terkait perkara pidana, biro hukum tidak mampu bergerak lebih jauh pada soal pidana. Ini dalam rangka melindungi roda pemerintahan Sumut sesuai dengan koridor hukum," jelas Gatot.

Gatot kembali mempertanyakan pemanggilan dari Kejaksaan Agung terhadap dua stafnya perihal dugaan penyelewengan dana bansos, meski dirinya belum dimintai keterangan.

Ia menyebut nama wagub Sumut yang kini jadi pelaksana tugas Gubernur, Tengku Erry Nuradi sebagai pihak yang diduga terkait dalam upaya untuk menggulingkan dirinya.

"Kami menyadari peristiwa sosial politik ini sangat erat kaitannya dengan manuver yang dilakukan berbagai kepentingan politik, dan digerakan oleh saudara wakil gubernur. Peristiwa ini lebih banyak nuansa politik," beber Gatot.

(Baca juga: Tangisan dan Luapan Hati Istri Gatot Pujo Saat Bacakan Pembelaan)

Gatot juga menegaskan terkait pemberian uang kepada Rio Capella bukanlah inisiatifnya atau pun inisiatif Evy Susanti. Pemberian menurutnya dilakukan atas permintaan orang dekat Rio Capella, Fransisca Insani Rahesti alias Sisca.

"Terkait Pak Rio Capella, kami ingin sampaikan pada majelis hakim bahwa semua bukan dari inisiatif kami atau istri kami, tapi fakta persidangan terungkap semua karena permintaan saudara Sisca terhadap istri saya," jelas Gatot.

"Posisi Pak Rio juga sebagai sekjen Partai NasDem, bukan dalam kapasitas anggota Komisi III DPR. Kira-kira itulah sedikit klarifikasi peristiwa yang akhirnya jadi peristiwa hukum yang menyebabkan saya jadi terdakwa dalam posisi sekarang ini," ujar Gatot.

Gatot Pujo dituntut hukuman 4,5 tahun penjara, sedangkan Evy Susanti dituntut hukuman 4 tahun bui. Gatot-Evy juga dituntut membayar denda masing-masing Rp 200 juta subsidair 5 bulan kurungan.

Keduanya diyakini Jaksa pada KPK menyuap hakim dan panitera PTUN Medan dan memberikan duit ke Patrice Rio Capella. (rna/fdn)