Bima Arya Resmikan Gerbang Lawang Suryakancana, Ikon Baru di Kota Bogor

Bima Arya Resmikan Gerbang Lawang Suryakancana, Ikon Baru di Kota Bogor

Farhan - detikNews
Rabu, 10 Feb 2016 15:51 WIB
Foto: Farhan/detikcom
Bogor - Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, meresmikan gerbang "Lawang Suryakancana" yang menjadi pintu masuk ke kawasan Pecinan Kota Bogor, Rabu (10/2/2016). Hadir dalam acara tersebut, Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman, Sekda Kota Bogor Ade Sarip Hidayat, Muspida, tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, dan budayawan.  

Lawang Surya Kancana yang dibentuk dengan ornamen mirip khas Tionghoa tersebut dibangun tepat di pertigaan menuju kawasan pecinan di jalan Suryakancana. Lokasi ini juga dikenal sebagai pusat kuliner khas Kota Bogor. Gerbang Lawang Kancana yang diberi cat warna merah, menjadi semakin menarik dan pas dengan momen Imlek. Di sisi kanan dan kiri gerbang, dibangun patung harimau sebagai simbol penjaga.

Bima mengatakan, gerbang Lawang Suryakancana merupakan akulturasi dari 3 budaya. Kata Kampung Tengah dan Dayeuh Bogor, dianggap sebagai kata yang mewakili budaya sunda. Sementara kata Buitenzorg mewakili istilah kolonial dan bangunan gerbang dengan arsitektur bernuansa Tionghoa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Foto: Farhan/detikcom

Hal ini, menurut Bima, merupakan wujud dari pemerintah Kota Bogor untuk melestarikan budaya dan sejarah di Kota Bogor. "Kita juga bersyukur karena hidup di kota yang  banyak memiliki anugerah dan memiliki banyak warisan pusaka tradisional sunda, kolonial dan Tionghoa," kata Bima.

Bima yang saat peresmian menggunakan pakaian khas Tionghoa warna hitam itu mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan penataan dan pengembangan titik-titik pusaka di Kota Bogor. Setelah menata kawasan pecinan, Bima akan membangun Kampung Arab di kawasan Empang, Bogor Selatan, Kota Bogor serta kawasan bernuansa tradisional Sunda di R3 di Bantarjati.

Foto: Farhan/detikcom

"Saat ini kita sedang mengembangkan heritage yang memadukan unsur kolonial dan tradisional di samping Tugu Kujang," lanjutnya.

Pusaka, menurut Bima, bukan sekedar untuk dinikmati, tapi perlu dimanfaatkan sebagai sumber nilai  kehidupan untuk memelihara semangat dan kesadaran tentang keberagaman dan kebersamaan. "Kita semua boleh bangga dengan identitas masing-masing, namun kita semua harus bangga sebagai warga negara yang dibungkus dalam bingkai NKRI sebagai harga mati," ujarnya.

Pemerhati Budaya Tionghoa Bogor Mardi Lim menuturkan, kawasan Suryakencana ini dibentuk oleh Belanda. Namun, setelah Belanda hengkang kawasan ini kembali dengan percampuran berbagai etnis tidak lagi hanya Tionghoa saja. "Lawang Suryakancana ini jadi momentum titik awal perjalanan sejarah Kota Bogor untuk sama-sama menggalangkan kearifan lokalnya sebagai Kota Pusaka," katanya kepada wartawan. (trw/trw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads