Usai Banten, Giliran Rumah Nelayan di Lampung yang akan Dibedah TNI AL

Rina Atriana - detikNews
Sabtu, 06 Feb 2016 09:20 WIB
Foto: Rina Atriana/detikcom
Jakarta - Sepanjang 2015, program bedah rumah TNI AL berhasil merenovasi 20 rumah nelayan yang ada di Banten. Rencananya, untuk tahun 2016 giliran nelayan di Provinsi Lampung yang rumahnya akan mereka bedah.

"Tahun 2015 kita bangun satu rumah pintar, renovasi TPI, renovasi mushola menjadi masjid, rumah ibadah, perbaikan jalan, lampu-lampu penerangan. Sama rumah nelayan 20 buah di Banten," kata Kepala Dinas Potensi Maritim TNI AL Brigjen TNI Marinir Tommy Basari.

Hal tersebut disampaikan Tomny saat mengisi seminar tentang Kemaritiman di kegiatan Sail Journalist di atas KRI Makassar di perairan laut Jawa, Jumat (5/2/2016). Menurut Tommy dipilihnya Banten dan Lampung sebagai provinsi yang awal-awal kena 'pembedahan' karena letaknya yang dekat dengan Ibu Kota.

"Ini kan program baru, sejak 2015. KASAL bilang coba lah bergerak dari yang dekat dulu. Nah ini di Banten perlu perbaikan, dari Banten larinya ke Lampung, nanti ke Bengkulu," jelas Tommy.

"Kalau Sumatera habis mungkin larinya kembali ke timur. Rencananya satu tahun dua kali nantinya. Sekarang setahun sekali," lanjutnya.

Setiap rumah dianggarkan Rp 20 juta untuk direnovasi. Pembiayaan di antaranya berasal dari Kementerian Sosial, Kementerian Koperasi UKM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan beberapa pihak swasta.

"Lampung mintanya 140 (rumah), baru terkumpul yang akan disanggupi 70. Pelaksanaannya bulan Maret ini. Sekarang masih ngumpulin dulu, siapa nih yang mau bantu," terang Tommy.

"Dari Menteri Koperasi ada, mungkin nanti dari Menteri KKP ada, dari gubernur mungkin berapa. Mensos sudah mau ngasih 20 rumah. CSR juga ada. Kita nawarin, ini kita punya program, mau bantu berapa?" paparnya.

Setiap nelayan yang rumahnya ingin dibedah, ia mengajukan permohonan melalui kepala desa masing-masing. Lalu berikutnya dilakukan seleksi seandainya yang mendaftar melebihi dana yang terkumpul.

"Syaratnya ya nelayan-nelayan yang rumahnya sudah mau roboh-roboh. Nanti kan bergantian. Pengajuan melalui kepala desa, nambah lagi nambah lagi yang ngajuin, ya yang penting uangnya ada," pungkas Tomny. (rna/imk)