Merasa Disingkirkan PKS, Fahri Mengenang Perjalanan Bersama Partai Dakwah

Merasa Disingkirkan PKS, Fahri Mengenang Perjalanan Bersama Partai Dakwah

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Kamis, 14 Jan 2016 10:52 WIB
Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
Jakarta - Fahri Hamzah merasa disingkirkan dari PKS. Fahri pun mulai mengenang perjalanan panjang bersama partai dakwah yang ikut dideklarasikannya itu. Ada apa, Bang Fahri?

"Pagi ini bersama zikir pagi.. Aku ingin mengenang sekelumit perjalanan...bersama #PartaiDakwah," kata Fahri memulai tweetnya, Kamis (14/1/2016) pagi.

Kali ini Fahri berkicau cukup panjang, sekitar dua jam Fahri mengetik kisah perjalanan bersama PKS yang kelak akan ia bukukan. Apakah Fahri benar-benar sudah ditinggalkan PKS?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"#PartaiDakwah artinya partai yang memanggil dan mengajak kepada kebaikan..kepada cinta...Kisah ini kutulis untuk mengenang satu perjalanan yg monumental dalam hidupku," ujar Fahri menambah kesan melankolis dalam cuitannya.

Fahri mengawali ceritanya dengan perjalanan hidupnya sebagai orang pergerakan. Dia bergabung dengan orang-orang yang mengikat diri dalam kebaikan di bawah bendera partai dakwah.

"Kami pada awalnya adalah tarbiyah, tarbiyah artinya pendidikan, awal kebangkitan. #PartaiDakwah
kami percaya bahwa suatu bangsa hanya mungkin bangkit jika dia dididik dengan baik. #PartaiDakwah
suatu bangsa hanya mungkin memperoleh kejayaan jika kader-kadernya dilatih dan dididik dengan kematangan jiwa. #PartaiDakwah," kata Fahri.

Sampai suatu hari ketika politik mulai kondusif, dia terjun melibatkan diri di dalam perubahan. "Kami percaya bahwa suatu bangsa yang dipimpin secara otoriter, tidak akan memberikan masa depan, #PartaiDakwah dan kebebasan adalah hal yang mutlak bagi menyebarnya kebaikan, maka berdirilah partai politik. #PartaiDakwah," katanya.

"Kami mendirikan partai keadilan, aku menjadi salah seorang deklalator. Kini partai kami menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), setelah tidak lolos batas electoral pemilu 1999. #PartaiDakwah
Dan sekarang kami telah melampaui 3 periode lebih memiliki kursi di parlemen, mengirimkan ribuan kader-kader terbaik #PartaiDakwah," kenangnya.

Fahri menuturkan PKS tak pernah membangun kasta, yang tua menghormati yang muda demikian pula sebaiknya. "Hormati guru krn guru mencintai murid, #PartaiDakwah," ujarnya.

"Jundi (prajurit) tsiqoh (percaya) pada qiyadah (pimpinan) krn qiyadah menaruh keprcayaan kepada jundi, #PartaiDakwah," sambungnya.

"Pemahaman (al fahmu) untuk sama sama saling tsiqoh antara jundi dan qiyadah inilah yang melahirkan kekuataan taat dalam #PartaiDakwah. Kader dan prajurit pun berada dalam ketenangan dan kemantapan hati #PartaiDakwah," tulisnya.

Fahri menyesalkan di tengah situasi yang sangat nyaman itu ada pihak menganggap bahwa atas nama kebijakan politik dan arah partai maka sebagian orang harus dibersihkan. "Seolah-olah mereka yang berbeda tidak boleh ada di antara kita, dan dihapuskan namanya dalam etalase dakwah," keluh Fahri.

"Karena ada orang-orang baru yang dianggap lebih pantas dan lebih cocok dengan aspirasi penguasa, #PartaiDakwah. Rasanya aku semakin melihat ini tidak seperti yang kita inginkan," ujar Fahri mengungkap isi hatinya.

"Karena jika cinta sudah dibuang maka politik akan menjadi medan pembunuhan, tempat saling menghabiskan. #PartaiDakwah," ujarnya.

"Dan suatu hari aku dianggap tidak pantas oleh otoritas yang tidak jelas, yang aku curiga datang bukan dari kami. #PartaiDakwah. Aku tidak percaya kader kader #PartaiDakwah akan mentoleransi hawa kekuasaan yang menyengat, aku tidak percaya bahwa Partai ini akan membiarkan perlombaan saling meniadakan merajalela #PartaiDakwah. Gerilya kepada saya saya akan jadikan pelajaran yang besar. #PartaiDakwah," demikian akhir kicauan Fahri yang penuh dengan nada-nada dramatis.

Lalu kenapa Fahri sudah mengenang kebersamaan bersama PKS, sudahkan Mahkamah Partai Dakwah ini mengeluarkan putusan? (van/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads