"Pagi ini bersama zikir pagi.. Aku ingin mengenang sekelumit perjalanan...bersama #PartaiDakwah," kata Fahri memulai tweetnya, Kamis (14/1/2016) pagi.
Kali ini Fahri berkicau cukup panjang, sekitar dua jam Fahri mengetik kisah perjalanan bersama PKS yang kelak akan ia bukukan. Apakah Fahri benar-benar sudah ditinggalkan PKS?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fahri mengawali ceritanya dengan perjalanan hidupnya sebagai orang pergerakan. Dia bergabung dengan orang-orang yang mengikat diri dalam kebaikan di bawah bendera partai dakwah.
"Kami pada awalnya adalah tarbiyah, tarbiyah artinya pendidikan, awal kebangkitan. #PartaiDakwah
kami percaya bahwa suatu bangsa hanya mungkin bangkit jika dia dididik dengan baik. #PartaiDakwah
suatu bangsa hanya mungkin memperoleh kejayaan jika kader-kadernya dilatih dan dididik dengan kematangan jiwa. #PartaiDakwah," kata Fahri.
Sampai suatu hari ketika politik mulai kondusif, dia terjun melibatkan diri di dalam perubahan. "Kami percaya bahwa suatu bangsa yang dipimpin secara otoriter, tidak akan memberikan masa depan, #PartaiDakwah dan kebebasan adalah hal yang mutlak bagi menyebarnya kebaikan, maka berdirilah partai politik. #PartaiDakwah," katanya.
"Kami mendirikan partai keadilan, aku menjadi salah seorang deklalator. Kini partai kami menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), setelah tidak lolos batas electoral pemilu 1999. #PartaiDakwah
Dan sekarang kami telah melampaui 3 periode lebih memiliki kursi di parlemen, mengirimkan ribuan kader-kader terbaik #PartaiDakwah," kenangnya.
Fahri menuturkan PKS tak pernah membangun kasta, yang tua menghormati yang muda demikian pula sebaiknya. "Hormati guru krn guru mencintai murid, #PartaiDakwah," ujarnya.
"Jundi (prajurit) tsiqoh (percaya) pada qiyadah (pimpinan) krn qiyadah menaruh keprcayaan kepada jundi, #PartaiDakwah," sambungnya.
"Pemahaman (al fahmu) untuk sama sama saling tsiqoh antara jundi dan qiyadah inilah yang melahirkan kekuataan taat dalam #PartaiDakwah. Kader dan prajurit pun berada dalam ketenangan dan kemantapan hati #PartaiDakwah," tulisnya.
Fahri menyesalkan di tengah situasi yang sangat nyaman itu ada pihak menganggap bahwa atas nama kebijakan politik dan arah partai maka sebagian orang harus dibersihkan. "Seolah-olah mereka yang berbeda tidak boleh ada di antara kita, dan dihapuskan namanya dalam etalase dakwah," keluh Fahri.
"Karena ada orang-orang baru yang dianggap lebih pantas dan lebih cocok dengan aspirasi penguasa, #PartaiDakwah. Rasanya aku semakin melihat ini tidak seperti yang kita inginkan," ujar Fahri mengungkap isi hatinya.
"Karena jika cinta sudah dibuang maka politik akan menjadi medan pembunuhan, tempat saling menghabiskan. #PartaiDakwah," ujarnya.
"Dan suatu hari aku dianggap tidak pantas oleh otoritas yang tidak jelas, yang aku curiga datang bukan dari kami. #PartaiDakwah. Aku tidak percaya kader kader #PartaiDakwah akan mentoleransi hawa kekuasaan yang menyengat, aku tidak percaya bahwa Partai ini akan membiarkan perlombaan saling meniadakan merajalela #PartaiDakwah. Gerilya kepada saya saya akan jadikan pelajaran yang besar. #PartaiDakwah," demikian akhir kicauan Fahri yang penuh dengan nada-nada dramatis.
Lalu kenapa Fahri sudah mengenang kebersamaan bersama PKS, sudahkan Mahkamah Partai Dakwah ini mengeluarkan putusan? (van/nrl)











































