Ribuan Warga Rebutan Air Kurasan Gentong di Makam Imogiri

Ribuan Warga Rebutan Air Kurasan Gentong di Makam Imogiri

- detikNews
Jumat, 04 Mar 2005 16:45 WIB
Bantul - Ribuan warga dari berbagai daerah memperebutkan air sisa kurasan gentong (enceh) di makam Sultan Agung di kompleks makam raja-raja di Imogiri Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (4/3/2005). Acara ritual di Makam Sultan Agung di Imogiri itu dikenal dengan sebutan Nguras Enceh/Kong (gentong).Acara ritual yang digelar setahun sekali pada hari Jumat Kliwon di bulan Suro/Muharram itu dilakukan dengan menguras, mencuci dan mengisi kembaliempat buah gentong yang ada di depan pintu makam raja Sultan Agung. Keempat buah gentong itu adalah Kyai Mendhung dan Nyai Siem serta Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti.Kyai Mendhung dan Nyai Siem yang dipercaya merupakan hadiah dari raja diRomawi dan raja Siam kepada Sultan Agung raja Mataram pada abad 17 M. Kedua gentong yang berada di kanan pintu makam itu dikuras dan diisi lagi oleh para abdi dalem Kraton Surakarta. Sedangkan Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti yang ada di sisi kiri dikuras dan diisi oleh abdi dalem Kraton Yogyakarta.Sejak pukul 07.00 WIB sebelum prosesi nguras enceh dimulai, warga dari berbagai daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah itu sudah berdatangan. Dengan penuh antusias mereka menaiki tangga makam yang berjumlah 345 anak tangga, sambil membawa jerigen atau botol bekas air mineral, sebungkus kemenyan dan kembang setaman.Meski prosesi baru dimulai pukul 09.00 WIB, mereka dengan sabar menunggu sambil duduk lesehan di dua pendopo yang ada di depan makam. Sebagian besar mereka datang untuk ngalap berkas, untuk mendapatkan air bekas kurasan gentong. Mereka mempercayai air itu akan membawa berkah seperti murah rezeki, awet muda, menyembuhkan penyakit, mengusir hama tanaman dan menyuburkan sawah.Tepat pukul pukul 09.00 WIB, prosesi Nguras Enceh dimulai. Prosesi menguras Enceh Kyai Mendhung dan Nyai Siem dipimpin juru kunci Raden Tumenggung Darto Hastono (Kraton Surakarta). Sedangkan prosesi nguras enceh Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti dipimpin abdi dalem Kraton Yogyakarta KRT Hastononegoro.Setelah mendapat izin dari juru kunci makam, para abdi dalem langsung menguras air yang ada di empat buah gentong tersebut. Saat air dikuras dua orang abdi dalem dari Kraton Surakarta dan Yogyakarta membakar kemenyan, membawa aneka sesaji dan berdoa memohon keselamatan.Saat dikuras, air kurasan dari Kong Kyai Mendhung dan Kyai Danumaya langsung menjadi rebutan warga yang ingin ngalap berkah. Mereka rela berdesak-desakan sambil mengacung-acungkan jerigen atau botol plastik agar diisi air oleh abdi dalem yang bertugas.Air beserta kembang setaman yang tumpah dari gentong saat diisi air menjadi rebutan warga. Kembang setaman itu langsung disimpan oleh yang mendapatkannya. Sedangkan sisa air yan tumpah itu, oleh warga langsungdiusapkan ke kening atau dipakai untuk cuci muka sambil mamanjatkan doapermohonanSekitar pukul 11.00 WIB, prosesi selsai. Para abdi dalem kemudian membagi-bagikan nasi gurih yang dibungkus dengan daun pisang. Selain memperoleh air sisa kurasan enceh, mereka juga mempercayai memakan nasi gurih tersebut juga akan memberikan berkah berupa keselamatan.Ny Resopawiro (54) warga Sambungmacan Kabupaten Sragen Jawa Tengah kepada detikcom mengungkapkan dirinya bersama beberapa kerabatnya sengaja datang sejak subuh dengan mencarter mobil untuk mengikuti prosesi nguras enceh agar dapat berkah. "Saya ke sini untuk mendapatkan air enceh agar penyakit anak saya segera sembuh dan panenan berhasi," katanya.Sementara itu Mudakir seorang nelayan dari Juwono Kabupaten Pati mengatakan dirinya bersama 15 orang tetangganya datang untuk mencari berkah dari sisa air enceh dan kembang setaman. "Baru pertama kali saya ikut, tapi teman-tema sudah berkali-kali. Saya ingin mendapatkan air enceh dan kembang untuk disiramkan ke kepal agar mendapat banyak ikan saat melaut," kata Mudakir sambil menenteng beberapa jerigen air. (nrl/)


Berita Terkait