Kisah Perjuangan Yoga Jadi Polhut Papua, Dikejar Pakai Kapak Terdampar di Laut

#SaveSiJambulKuning

Kisah Perjuangan Yoga Jadi Polhut Papua, Dikejar Pakai Kapak Terdampar di Laut

Nur Khafifah - detikNews
Senin, 30 Nov 2015 18:09 WIB
Yoga Sutisna, Polhut dari BBKSDA Papua (Foto: Nur Khafifah/detikcom)
Yoga Sutisna, Polhut dari BBKSDA Papua (Foto: Nur Khafifah/detikcom)
Jayapura - Polisi Hutan (Polhut) merupakan garda terdepan dalam menjaga keamanan hutan, khususnya dari ancaman manusia. Tak jarang mereka harus berhadapan dengan masyarakat lokal yang masih belum mengerti soal pelestarian lingkungan.

Yoga Sutisna (29), Polhut dari Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, menceritakan pengalamannya selama 6 tahun bertugas sebagai Polhut di provinsi yang terletak paling ujung timur Indonesia ini. Jauh dari keluarganya yang berasal dari Pangandaran, Jawa Barat, pada tahun 2009 lalu, Yoga bersama seorang temannya berangkat ke Papua demi melaksanakan tugas.

"Terkejut sekali saya waktu dapat penempatan di Papua. Nggak tahu apa-apa soal Papua. Saya sampai bawa beras ke sini, karena saya pikir nggak ada beras," kata Yoga saat berbincang di Abepura, Jayapura, Papua, Kamis (26/11/2015) sambil terkekeh.

Menurut Yoga, pada tahun 2009, Jayapura masih sepi. Tak ada mal dan tak banyak supermarket maupun hotel seperti saat ini. Namun ia bertekad tetap melaksanakan tugas, meski mengalami banyak kendala seperti perbedaan budaya, karakteristik dan lokasi yang jauh.

Yoga mengaku, tak mudah menyadarkan warga tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Jika salah melangkah, Polhut justru jadi sasaran warga. Apalagi ia merupakan warga pendatang.

"Pernah waktu terjadi kebakaran hutan, saya lagi patroli, lihat ada orang nebang pohon pakai kapak. Saya tegur dia, eh dia marah-marah. Saya dikejar pakai kapak, saya lari tunggang langgang," kata Yoga sambil tertawa mengenang awal kisahnya bertugas di Papua.

Ia juga pernah masuk ke hutan seorang diri untuk meneliti populasi di dalamnya dan berburu foto satwa. Yoga tak tahu bahwa kawasan tersebut merupakan area milik Otsus Papua.

"Besoknya saya lihat di TV ada penembakan di sana. Waduh, saya nggak lagi-lagi deh masuk hutan sendirian," ujar pria lulusan IPB ini.

Yoga mengatakan, jumlah personel Polhut di Papua sangat sedikit. Jika dihitung, masing-masing anggota Polhut harus mengawasi 100 ribu hektar hutan seorang diri. Hal yang mustahil dilakukan.

"Makanya harus punya link dengan Pemda," ujar pria yang pernah mendapat penghargaan sebagai Polhut Teladan 2014 ini.

Selain masalah dengan manusia, tantangan yang ia hadapi sebagai Polhut adalah kondisi alam yang kerap tak bersahabat. Yoga menceritakan, suatu hari pada tahun 2012, ia harus pergi ke Distrik Kimaam, Merauke untuk monitoring palbatas. Ia pergi menumpang kapal feri kayu.

"Tiba-tiba ada pengumuman dari BMKG kapal enggak boleh berlayar karena gelombang tinggi. Tapi kami sudah terlanjur di tengah laut," katanya.

Mereka akhirnya terombang-ambing selama 12 jam di Selat Mariana tanpa ada satu pun kapal lain. Di tengah ketakutan yang mendera, ia terus menerus berdoa agar diberi keselamatan. Hingga akhirnya ia dan rekannya bisa mencapai tujuan dengan selamat.

Namun tidak ada kapal yang mau mengantar mereka kembali. Sebab saat itu gelombang masih tinggi. Sehingga ia harus bertahan lebih lama di Distrik Kimaam.

"Ujung-ujungnya lebih parah lagi. Pulang naik speed boat. Itu benar-benar mempertaruhkan nyawa," kenangnya.

Pengalaman selanjutnya tak jauh berbeda. Ia pernah terombang-ambing di tengah laut dalam kondisi kapal mesin sebelah kanan mati. Padahal saat itu gelombang tinggi sehingga goncangan terasa semakin kuat.

"Itu pertama kalinya saya muntah," kata pria yang menjabat sebagai Kepala Unit Administrasi Satgas Polhut BBKSDA Papua ini.

Baginya, tidak ada kata tidak bisa dalam bekerja. Yang ada hanyalah mau atau tidak.

"Ada motivasi dari Kepala Balai Besar KSDA Papua, MG Nababan yang mengatakan bahwa kita bekerja untuk menyelesaikan masalah bukan membuat masalah," tutupnya.

Kakatua Jambul Kuning kembali ke habitatnya di hutan Papua (Foto: Nur Khafifah/detikcom)
(khf/mok)