detikNews
Senin 30 November 2015, 17:45 WIB

#SaveSiJambulKuning

Polisi Hutan dan Warga Lokal Jadi Garda Terdepan Jaga Kelestarian Alam

Nur Khafifah - detikNews
Polisi Hutan dan Warga Lokal Jadi Garda Terdepan Jaga Kelestarian Alam Foto: Agung Pambudhy
Jayapura - Sebanyak 21 ekor burung Kakatua Jambul Kuning dan Kakatua Raja akan dilepasliarkan di habitatnya pada tanggal 1 Desember mendatang. Setelah dikembalikan ke habitat asal, bukan berarti tugas kita selesai. Burung-burung langka ini harus dijaga kelangsungan hidupnya, khususnya dari tangan-tangan pemburu.

Hal itulah yang dilakukan oleh Polisi Hutan yang bermitra dengan warga lokal. Di desa Tablasupa, Distrik Depapre, Jayapura, Polhut bekerjasama dengan masyarakat setempat membentuk Komunitas Pecinta Alam (KPA) A' Memay sejak 2 tahun yang lalu. Sebanyak 25 orang anggota KPA bergabung secara sukarela menjaga kelangsungan ekosistem di kawasan yang tak jauh dari tempat tinggal mereka.

Setiap hari mereka bergiliran menjaga kawasan itu agar tidak kecolongan dari tangan-tangan jahat pemburu. Polhut dan anggota KPA juga gencar melakukan sosialisasi kepada warga akan pentingnya menjaga kelestarian alam, khususnya binatang yang sudah mulai langka.

Menurut Polhut BBKSDA Papua, Yoga Sutisna, bukan hal mudah menyadarkan masyarakat Tablasupa akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Sebab mereka berpikir, hutan tak memberikan manfaat secara finansial. Sehingga tak jarang mereka berburu burung-burung yang kini sudah mulai langka untuk dijual.

"Biasanya mereka berburu kalau butuh uang cepat, seperti saat harus membayar biaya sekolah anak. Kalau sehari-harinya mereka nelayan dan bercocok tanam," ujar Yoga di Tablasupa, Depapre, Jayapura, Kamis (26/11/2015).

Foto: Polhut BBKSDA Papua, Yoga Sutisna (Foto: Nur Khafifah/detikcom)


Namun setelah dijelaskan bahwa dengan melestarikan alam juga dapat meraup rezeki, para warga mulai tergerak. Yoga juga menjelaskan akan pentingnya menjaga budaya dan alam Papua yang tak ternilai. Sebab apa yang mereka miliki tak ada di daerah lain. Jika tak dijaga, binatang-binatang yang mulai langka ini bukan tidak mungkin akan bernasib sama dengan Harimau Jawa dan Harimau Sumatera yang kini hanya tinggal cerita.

"Saya merasa terpanggil karena penting untuk kami menjaga apa yang kami punya, dari darat maupun laut," ujar salah seorang anggota KPA dari perwakilan suku adat, Petrus O'Yaito.

Yoga juga mengaku terbantu oleh para anggota KPA dalam meneliti jumlah populasi binatang di hutan milik warga itu. Dari hasil penelitian Yoga dan kawan-kawannya, saat ini di area dengan ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (MDPL) tersebut ada 10 ekor burung Cenderawasih dengan 5 ekor berjenis kelamin jantan, dan 5 ekor betina. Sementara burung Kakatua Jambul Kuning berjumlah sekitar 13 ekor.

"Baru kali ini juga ada Cenderawasih di ketinggian 500 mdpl. Biasanya di ketinggian sekitar 800 mdpl ke atas," kata pria yang telah bertugas selama 6 tahun di Papua ini.

Sementara di ketinggian 800 mdpl hanya ditemukan 3 ekor burung Cenderawasih. Selain itu ada juga Kakatua Raja, Nuri Kepala Hitam, Elang hutan, Rangkong, Perkici pelangi hingga maleo atau ayam hutan.

Saat ini kata Yoga, mereka sedang berusaha menjadikan kawasan tersebut sebagai area wisata. Selain dapat menyaksikan langsung burung langka di habitatnya, wisatawan juga dapat menikmati keindahan Pantai Amay yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari hutan.

"Ada juga spot untuk diving di sekitar sini," ujarnya.
(khf/mok)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com