#SaveSiJambulKuning

Serunya Masuk ke Tengah Hutan, Menanti Sosok Kakatua Jambul Kuning

Nur Khafifah - detikNews
Senin, 30 Nov 2015 17:07 WIB
Kawasan Cagar Alam Cyclops, Jayapura (Foto: Nur Khafifah/detikcom)
Kawasan Cagar Alam Cyclops, Jayapura (Foto: Nur Khafifah/detikcom)
Jayapura - Waktu saat menunjukkan pukul 09.30 WIT. Rombongan dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup tiba di sebuah kawasan yang menjadi rumah asli Kakatua Jambul Kuning, Cenderawasih, Nuri Kepala Hitam dan berbagai binatang dilindungi lainnya.

Untuk menjaga lokasi agar tetap steril dari para penyelundup binatang langka, detikcom diminta untuk tidak menjelaskan detil kawasan ini. Sebuah lokasi yang masih merupakan tanah milik warga lokal.

Sebelum memasuki wilayah tersebut, tim harus meminta izin kepada ketua adat setempat atau yang sering disebut Ondoape. Setelah diizinkan, tim akhirnya diperbolehkan masuk ke kawasan hutan yang masih asri itu didampingi warga lokal.

Baru beberapa menit melangkah, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh ke tanah. "Durian jatuh. Sebentar mama cari dulu. Nanti kita makan sama-sama. Kalian jalan dulu sana," kata penduduk setempat, Kamis (26/11/2015).

Tak jauh dari lokasi jatuhnya durian, terdengar gemericik air dari sungai yang membentang di dalam hutan itu. Airnya sangat jernih dan menyegarkan. Namun tak dapat berlama-lama di sungai itu, tim harus terus bergerak untuk mengejar waktu melihat aktivitas para burung.

Tepat 40 menit perjalanan, mulai terdengar kicauan nyaring burung bersahut-sahutan di atas pohon. Dari sisi kanan, kiri dan sisi depan, burung-burung tersebut berkicau bergantian seakan berbincang satu sama lain. Suasana terasa begitu ramai oleh 'perbincangan' mereka.

"Itu suara Cenderawasih. Kalau yang ini, Kakatua Jambul Kuning. Ayo kita dekati ke pohonnya," ujar Polisi Hutan BBKSDA Papua, Yoga Sutisna sambil melangkah pelan-pelan mendekati salah satu pohon terbesar di area itu, pohon Dao Kendao.

Menurut Yoga, pohon ini merupakan pusatnya sarang burung di area tersebut. Selain karena ukurannya besar-besar, pohon Dao Kendao juga memiliki buah-buah kecil yang agak manis. Cocok dengan selera burung.

Bukan perkara mudah untuk dapat menyaksikan secara langsung aktivitas burung saat itu. Burung memiliki karakter sangat disiplin. Menurut Yoga, biasanya burung-burung ini aktif berkicau dan menampakkan diri sejak pukul 06.00-07.00 WIT. Setelah itu mereka masih berada tak jauh dari sarangnya namun masih berkicau ramai. Sekitar pukul 09.00 WIT, burung-burung tersebut biasanya tak menampakkan diri.

Hanya sesekali terdengar kicauan burung Kakatua Jambul Kuning. Sementara burung Perkici masih lebih sering terdengar berkicau memecah keheningan hutan. Meskipun tak terlihat dalam pandangan mata, sesuai teori, burung-burung itu masih berada di area seluas sekitar 1 km dari sarangnya.

"Biasanya kalau mau mengamati burung dari jam 05.00-10.00 WIT pagi dan 15.00-17.00 WIT sore," terang alumni IPB ini.

Lebih dari satu jam menanti, burung-burung tersebut tak juga menampakkan diri. Kedisiplinan burung-burung itu memang tak diragukan lagi. Tim akhirnya kembali karena cuaca juga sudah mulai mendung. Tak dapat menyaksikan secara langsung aktivitasnya, setidaknya burung-burung itu telah menyambut kehadiran tim dengan kicauan yang indah.

Kawasan Cagar Alam Cyclops, Jayapura (Foto: Nur Khafifah/detikcom)




(khf/mok)