DetikNews
Jumat 27 November 2015, 13:05 WIB

Habisi Nyawa Satu Keluarga, Ikhsan Berpotensi Mengulangi Perbuatannya

Andi Saputra - detikNews
Habisi Nyawa Satu Keluarga, Ikhsan Berpotensi Mengulangi Perbuatannya Ilustrasi (dok.detikcom)
Jakarta - Ikhsan Pratama (19) menghabisi nyawa satu keluarga di Jombang. Psikolog yang bersaksi di pengadilan meyakini Ikhsan berpotensi mengulangi kejahatan tersebut.

Pembunuhan sadis itu dilakukan di Perumahan Sambong Permai Blok E-11, Desa Sambongdukuh, Kecamatan Jombang, pada 21 Oktober 2014 malam. Usai dibukakan pintu, Ikhsan menghabisi seisi rumah, yaitu:

1. Handriadi (kepala rumah tangga) luka bacok dan tusuk.
2. Delta Fitriani (ibu rumah tangga), tewas di tempat.
3. Anak pertama, Rivan Hernanda (9), tewas di tempat
4.Anak kedua, Yoga Saputra (7), tewas di tempat.
5. Anak ketiga, Clara (2), luka bacok.

"Bahwa berdasarkan hasil psikotes, Ikhsan memiliki tipe kepribadian tertutup (introvert), cenderung memendam masalahnya sendiri," kata psikolog Suryo Narmodo yang dikutup detikcom dari website Mahkamah Agung (MA), Jumat (27/11/2015).

Menurut Suryo, pelaku memiliki kondisi kepribadian kurang matang, sering bertindak spontan dan tempremental tanpa perhitungan. Selain itu juga memiliki kemampuan menyelesaikan masalah cenderung kurang, mudah frustasi dan sering mengambil jalan pintas mengikuti emosi.

"Cenderung agresif, mudah curiga dan sensitif serta pendendam," kata Suryo memaparkan analisanya tentang Ikhsan.

Hasil pemeriksaan secara keseluruhan, Ikhsan adalah manusia normal dan tidak ada indikasi patologis yang mengarah kepada gangguan kejiwaan. Selain itu, Ikhsan memiliki ketidakstabilan emosi serta cenderung tertutup dan mudah frustasi.

"Terdakwa melakukan perbuatan tersebut (pembunuhan) karena dilandasi emosionalnya akibat dituduh mencuri karena menyinggung perasaannya," ucap Suryo.

Sikap agresif ini, kata Suryo, perlu diwaspadai. Meskipun dalam keadaan normal dapat dikontrol. Namun dalam keadaan tertentu, sifat agresif tersebut dapat muncul karena sifat bawaan dari terdakwa yang cenderung tertutup dan mudah tersinggung.

"Sifat agresif ini sangat sudah dihilangkan karena sudah sifat bawaan, kecuali faktor lingkungan yang mendukung serta keinginan kuat dari terdakwa untuk berubah," ujar Suryo.

Tapi, Suryo mewanti-wanti serius peluang Ikhsan bisa berubah atau tidak.

"Namun hal tersebut sangat kecil kemungkinannya," cetus Suryo.

Setelah diproses hukum, Ikhsan dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Jombang pada Ikhsan pada 18 Mei 2015. Putusan ini lalu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya. Mendapati vonis mati ini, nyali Ikhsan ciut dan mengajukan kasasi. Tapi apa daya, permohonan ini ditolak MA pada Kamis (27/11) lalu.

Hakim agung Timur Manurung dengan hakim agung Dr Dudu Duswara dan hakim agung Prof Dr Gayus Lumbuun sepakat mengirim Ikhsan ke regu tembak.

Jika psikolog memprediksi perbuatannya bisa diulanginya, maka sudah tepat Ikhsan dihukum mati.

(asp/try)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed