Keracunan, Warga Sekitar PT DCI Cikarang Minta Pabrik Ditutup

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Selasa, 03 Nov 2015 14:13 WIB
Foto: Edward/detikcom
Bekasi, - Warga kampung Bangkongreang, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, keracunan akibat limbah udara PT DCI. Mereka meminta pabrik itu ditutup untuk mengembalikan udara segar di lingkungan mereka.

"Kita tadinya mau demo minta pabrik ini ditutup. Sebelum pabrik ini ada, udara biasa-biasa aja. Segar. Tapi sejak pabrik ini ada, aroma bau menyengat sangat tajam," kata salah satu warga Kampung Bangkoreang, Omin (31), saat berbincang dengan detikcom, Selasa (3/11/2015).

Puncaknya, saat puluhan warga mengalami keracunan dan dilarikan ke rumah sakit. Tak hanya itu, binatang peliharaan mereka seperti kucing, ikan, burung semuanya mati keracunan.
Ikan piaraan yang mati karena limbah udara PT DCI


Meski begitu, aksi warga itu diurungkan. Omin dan teman-temannya yang berkumpul di warung kopi depan pabrik tersebut hanya membentangkan spanduk bertuliskan 'Tutup PT Dalzon. Warga butuh udara segar' di depan pagar pabrik tersebut.

Anak Omin menjadi salah satu korban keracunan limbah udara pabrik PT DCI. Awalnya, ia sama sekali tak berpikir anaknya menangis karena keracunan. Namun, di luar rumah, tetangganya mulai berlarian keluar rumah sambil berteriak 'keracunan'.

"Waktu saya bawa anak saya ke rumah sakit, ternyata sudah banyak warga lain yang ditangani," ucapnya.

Korban lainnya adalah Eko Hendriono (25) dan anaknya. Eko melihat debu warna kuning yang terbang ke permukimannya. Tak lama kemudian putrinya muntah-muntah dan mual. Eko juga sempoyongan, keringat dingin dan mual. Saat keluar rumah, burung piaraannya sudah mati.

"Saya lihat burung piaraan saya pada jatuh mati. Jadi saya sadar ada yang enggak beres nih dari udaranya. Enggak lama saya muntah-muntah, dan hilang kesadaran. Saya  dan anak saya dibawa teman ke rumah sakit," ucap Eko.

Omin menuturkan, pihak PT DCI berjanji akan menanggung seluruh biaya pengobatan warga yang dirawat di RS Mitra Keluarga dan RS Medirosa. Namun, kenyataannya Eko yang dirawat di RS Medirosa menggunakan BPJS dan Omin yang dirawat di RS Mitra Keluarga harus membayar sendiri biaya pengobatan.

Omin mengatakan sebelum pabrik itu didirikan, udara sekitar permukiman baik-baik saja. Namun, sejak pabrik itu beroperasi, bau menyengat seperti bangkai menghantui warga.

Sementara itu, HRD PT DCI, Suhodo membenarkan peristiwa tersebut. Akan tetapi, dirinya belum bisa dimintai keterangan lebih detail karena masih mengurus korban.

"Iya betul, tapi saya sedang tidak ada waktu, saya lagi mengurus orang sakit," jawabnya Suhodo, Senin (3/11/2015). (mnb/nrl)