Analis tulisan tangan (grafolog) dari American Handwriting Analysis Foundation, Deborah Dewi menganalisis tulisan tangan Jokowi dari beberapa indikator. Indikator itu adalah margin kanan, margin kiri, arah pergerakan tulisan yang berbeda arah, baseline, dan beberapa bentuk huruf.
Foto: Deborah Dewi |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika diintepretasikan secara menyeluruh, menunjukkan Pak Jokowi ragu bahwa di antara Indonesia dan Amerika telah atau akanĀ terjalin hubungan persahabatan. Namun setelah melalui berbagai tahap observasi, beliau punya ketertarikan besar untukĀ mengembangkan hubungan diplomatik kedua negara ini," kata Deborah dalam perbincangan, Kamis (29/10/2015).
Deborah menuturkan bahwa keraguan itu terlihat pada 3 indikator sekaligus yaitu margin kanan yang menjauh (panahĀ merah), arahĀ pergerakan tulisan yang berbeda arah (panah biru) dan penggalan kata yang tidak lazim pada kata "persahabatan" (tertulis: perĀ sahabatan)
"Keraguan tersebut sangat kuat sehingga membuat beliau sangat berhatiāhati dalam membuat kesepakatan dan akan melakukanĀ kontrol ketat terhadap semua kesepakatan yang sudah terjadi agar benarābenar terlaksana dan berjalan sebagaimana mestinya," ujar Deborah.
"Menulis ibarat bernapas. Ritme pemenggalan huruf dan kata yang tertuang pada goresan adalah hasil proyeksi otak bawah sadar penulisnya," lanjutnya.
Jokowi mengisi buku tamu sesaat sebelum meninggalkan Blair House, Selasa (27/10/2015), pukul 17.00 waktu setempat. Dalam kalimat singkat, Jokowi mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pihak Blair House yang telah bersikap ramah tamah dan penuh kehangatan kepada seluruh delegasi Indonesia selama kunjungan ke Washington DC.
"Terima kasih atas kehangatan, persahabatan, dan keramah-tamahan yang baik selama rombongan Indonesia berada di Blair House. Terima kasih yang sebesar-besarnya," tulis Jokowi. (imk/hat)












































Foto: Deborah Dewi