detikNews
Rabu 21 Oktober 2015, 12:24 WIB

Jokowi Setuju Eksekusi Yayasan Soeharto Rp 4,4 T, Bagaimana Langkah Selanjutnya?

Dhani Irawan - detikNews
Jokowi Setuju Eksekusi Yayasan Soeharto Rp 4,4 T, Bagaimana Langkah Selanjutnya? Jaksa Agung/berkemeja putih (dok.detikFOTO: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Jaksa Agung Muhammad Prasetyo telah mengantongi surat kuasa khusus (SKK) dari Presiden Jokowi terkait eksekusi Yayasan Supersemar yang diharuskan membayar Rp 4,4 triliun. Lalu bagaimana langkah selanjutnya?

"Kita akan bentuk tim jaksa untuk melakukan koordinasi dengan pengadilan," kata Prasetyo ketika dihubungi, Rabu (21/10/2015).

Prasetyo mengatakan nantinya pihak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) yang akan melaksanakan proses eksekusi. Dalam hal ini, Kejaksaan Agung (Kejagung) memang bertindak sebagai jaksa pengacara negara.

"Nanti yang melaksanakan kan pengadilan. Kita sebagai pihak yang berkepentingan akan berkoordinasi dengan mereka," ucapnya.

Selain itu, Prasetyo mengaku belum memegang catatan aset yayasan yang didirikan Soeharto tersebut. Prasetyo menyebutkan nantinya akan ada komunikasi dengan pihak pengadilan.

"Belum ada catatan aset mereka. nanti kita lihat bagaimana setelah komunikasi dengan PN Jaksel. Mungkin akan dipertemukan kan. Nanti akan dilihat seperti apa sikap dari tergugatnya, apa bersedia sukarela atau tidak," sebutnya.

Pihak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) sendiri mengaku tidak tahu apa saja aset-aset yang kemungkinan akan disita dari yayasan tersebut. Ketua Humas PN Jaksel Made Sutrisna menyebut Kejaksaan Agung (Kejagung) selaku jaksa pengacara negara lebih mengetahui aset-aset dari yayasan tersebut.

"Nah itu dia kami belum tahu apa saja, justru Kejaksaan Agung yang lebih tahu. Ini kan tidak ada sita jaminan, kalau sita jaminan kan tahu apa saja asetnya," kata Made saat ditemui di kantornya, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (1/10/2015).

Yayasan Supersemar sendiri didirikan pada awal tahun 70-an dengan tujuan sosial kependidikan. Namun dalam perjalanannya, dana yayasan itu diselewengkan.

Berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA), kebocoran dana yayasan tersebut mengalir ke:

1. Bank Duta, kini menjadi Bank Danamon
2. Sempati Air
3. PT Kiani Lestari
4. PT Kalhold Utama
5. Essam Timber
6. PT Tanjung Redep Hutan Tanaman Industri
7. Kosgoro
(dhn/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed