DetikNews
Jumat 18 September 2015, 21:10 WIB

Laporan Dari Beijing

Genjot Investor ke Indonesia, Zulkifli Hasan: Kita Harus Lebih Agresif!

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Genjot Investor ke Indonesia, Zulkifli Hasan: Kita Harus Lebih Agresif! Foto: Ayunda Widyastuti Savitri
Beijing - Rombongan MPR gencar mempromosikan Indonesia di negeri Tirai Bambu dengan tujuan agar dapat menarik minat investor. Menurut Ketua MPR Zulkifli Hasan, pihaknya saat ini harus lebih agresif lagi.

"Kita harus lebih agresif! Oleh karena itu kita perlu langkah substansi, di Tanah Air kita sering ribut hal-hal yang tidak penting," ujar Zulkifli kepada wartawan di Hotel Ritz-Carlton, Financial Street, Beijing, Tiongkok, Jumat (18/9/2015) malam.

Politisi PAN itu pun menceritakan kalau dirinya sempat merasa malu saat bertemu dan berbincang dengan Ketua CPPCC National Committe (MPR Tiongkok-red) Yu Zhengsheng pada Kamis, 17 September lalu. Yu saat itu berkata seharusnya dengan sumber daya alam dan manusia yang melimpah dimiliki Indonesia, bisa menjadikannya lebih maju ketimbang Tiongkok.

"Saya malu semalam ketemu ketua parlemen Tiongkok. (Dia berkata) harusnya Indonesia bisa lebih maju daripada Tiongkok. Oleh karena itu, kita harus lebih agresif," kata dia.

"Kemajuan ekonomi nggak bisa diminta, harus kita rebut. Tidak ada pilihan lain. Oleh karena itu, kita harus lebih aktif dan agresif, kemampuan ada dan keuangan ada," lanjutnya.

Dia pun mencontohkan proyek pembangunan Waduk Jatigede dengan perusahaan Tiongkok, PowerChina sebenarnya sudah lama disepakati. Namun realisasinya sangat lamban hingga 3 kali pergantian kursi presiden belum juga bisa rampung.

Akhirnya, Zulkifli mengebut pengerjaan proyek itu semasa menjabat sebagai Menteri Kehutanan di era Presiden SBY dengan cara mengeluarkan izin lahan dalam jangka waktu 3 bulan. Sebab menurutnya, penggunaan pembangkit tenaga listrik air (PLTA) bisa jauh lebih menguntungkan ketimbang energi solar ataupun yang lainnya.

"Kalau dia (PowerChina) terlambat (selesaikan Waduk Jatigede), yang rugi kita. Kalau listrik pakai solar 35 sen, kalau listrik pakai air cuma 5 sen. Bayangkan kita rugi 30 sen kalau dikalikan terus berapa bisa besar kita habiskan. Pengusaha Tiongkok juga mengatakan siap investasi di Indonesia," terang Zul.

"Kita garisbawahi kalau kita tertinggal dari negara-negara lain dan kalau ekonomi mau maju, nggak bisa kita minta-minta. Kita punya hubungan comprehensive, strategic dan partnership (dengan Tiongkok), harus kita aktif merebut peluang-peluang yang ada," pungkasnya.
(aws/dhn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed