Alga Hijau Antiobiotik Racikan Siswi SMA di Bali

ADVERTISEMENT

Kisah Para Penemu Muda

Alga Hijau Antiobiotik Racikan Siswi SMA di Bali

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Selasa, 01 Sep 2015 10:09 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta - Menjadi peneliti muda, sangat wajar bila turun ke lapangan untuk mengumpulkan data. Dalam pengumpulan data tersebut, pasti tak lepas dari hambatan dan halangan.

Ni Putu Intan, remaja perempuan asal SMA 3 Denpasar Bali beserta rekannya Cok Laksmi Pradna melakukan penelitian mengenai Evaluasi Pemanfaatan Fitoplanktob Melosira sp, Navicula sp, Nitzschia sp di Perairan Bali dan Lombok Sebagai Sumber Antibiotik. Dalam prosesnya, kedua gadis ini sempat menemui kesulitan ketika mengumpulkan data.

"Penelitian kami inikan sebenarnya susah-susah gampang. Bahan-bahannya agak kurang. Namun kami berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan alga hijau yang jadi sumber penelitian kami," ujar Cok Laksmi Pradna, saat dihubungi detikcom, Senin (31/8/2015).

Mereka berdua harus mencari dari satu pantai ke pantai lainnya. Bahan untuk penelitian yang mereka cari yaitu alga hijau.

Pada penelitian ini, mereka ingin membuktikan bahwa ada fitoplankton vipolit dalam alga hijau atau Chlorophycea. Berawal dari seringnya kedua remaja ini pergi ke pantai.

Di pantai, mereka sering melihat para nelayan selepas pulang melaut membersihkan diri menggunakan cairan alga hijau. Menurut Laksmi, cairan alga hijau itu dihasilkan dari rebusan daun alga hijau.

Karena tertarik dengan kebiasaan para nelayan tersebut, mereka melakukan riset. Mereka bertanya kepada para nelayan di pantai tersebut.

"Setelah ditanya, ternyata cairan alga hijau tersebut ampuh untuk megobati gatal-gatal. Kadangkan selepas pulang melaut mereka (nelayan) suka gatal-gatal, dan setelah dibasuh pakai cairan alga hijau jadi sembuh," lanjutnya.

Saat ini keduanya berhasil membuat serum antibiotik dari alga hijau tersebut. Laksmi menambahkan, serum ini akan terus dikembangkan dan memakan waktu yang lama.

"Saat ini sudah ada serum antibiotiknya dari alga hijau. Dan proses pengembangannya masih akan terus berlanjut," ucapnya.

Serum ini sekarang masih baru diproduksi di tingkat sekolah. Ke depannya mereka berharap agar serum alga hijau dapat dimanfaatkan untuk masyarakat luas.

Alga hijau dapat dijadikan antibiotik dari bakteri Staphylococcus aureus karena memiliki kandungan polifenol, tanin, dan flavonoid yang bersifat antibakteri. Laksmi juga menjelaskan, untuk penelitian ini membutuhkan kesabaran untuk hasil yang memuaskan.

"Meneliti seperti ini dibutuhkan kesabaran. Karena ini sangat sulit. Demi hasil yang memuaskan. Selain itu biayanya sangat mahal, syukur dibantu teman-teman dan pihak sekolah," tambahnya.

Laksmi menambahkan bahwa Walikota Denpasar juga sangat mendukung penelitian mereka. Karya ilmiah kedua remaja ini kemudian menjadi pemenang pertama dalam ajang LKIR ke-47 tahun 2015 untuk kategori Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim. (yds/mad)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT