Tuhan Dijadikan Nama, MUI: Tuhan Nggak Boleh Dibuat Main-main

Jajeli Rois - detikNews
Senin, 24 Agu 2015 19:51 WIB
Foto: Rois/detikcom
Surabaya - Tuhan dijadikan nama oleh pria berusia 42 tahun asal Banyuwangi, Jawa Timur. Nama itu dibuktikannya dengan KTP. Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, manusia tidak layak menjadikan Tuhan sebagai nama. MUI berharap, nama tersebut diubah. Jika tidak, maka pemerintah daerah setempat tidak mengeluarkan kartu tanda pendududuk (KTP).

"Janganlah manusia dikasih nama Tuhan. Tuhan boleh dipakai namanya asalkan ditambahi kata didepannya misalnya Abdullah. Illah kan nama Tuhan, karena didepannya ada Abdu, maka menjadi hamba Allah," ujar Ketua MUI Jawa Timur KH Abdussomad Bukhori di sela acara Musyawarah Nasional (Munas) ke 9 MUI di Hotel Garden Palace, Surabaya, Senin (24/8/2015).

Ia menerangkan, secara etika keagamaan, penggunaan nama Tuhan pada manusia adalah tidak tepat. Karena Tuhan adalah dzat yang disembah. "Tuhan memang nama yang baik, tapi nggak cocok, karena itu mensyirikkan Tuhan. Tuhan kan dzat yang disembah. Lah kalau orang masak Tuhan," tuturnya.

KH Abdussomad memberikan saran, agara nama Tuhan diganti, atau menambah kata didepannya. Jika saran tersebut tidak digubris, maka pemerintah setempat tidak mengeluarkan kartu identitas atau KTP.

"Kalau nggak mau diubah, bagian kependudukan (pemerintah setempat) jangan diberi KTP. Kalau kamu nggak mau menambah atau mengubah, kamu nggak punya KTP dan nggak bisa utang ke bank," terangnya.

Ketika ditanya tentang landasan apa yang melarang pemberian KTP bagian dia yang tidak mengubah namanya, KH Abdussomad meminta persoalan tersebut tidak dikaitkan dengan Hak Azasi Manusia (HAM).

"Jangan bicara HAM-lah yang gitu-gitu. Tuhan kan nggak boleh dibuat main-main. Tuhan itu keyakinan kok, masak ada namanya Tuhan," tegasnya.

"Jangankan nama Tuhan. Nama jelek seperti setan juga nggak boleh. Masak namanya setan," paparnya sambil membeberkan hadist tentang, Kewajiban orang tua adalah kepada anak memberi nama yang baik, mendidik, mengajar kitab suci Al Quran, memberi pelajaran keterampilan, skill sesuai ajaran agama.

"Kemudian tugas orang tua juga mencari rizki yang halal. Kemudian menjodohkan kalau sudah ada jodohnya," tandasnya. (roi/dra)