Menyapa Bapak dan Ibu Bangsa

Cara Boediono Mengelola Kritik: Pandai Membedakan Voice dan Noise

Mega Putra Ratya - detikNews
Senin, 24 Agu 2015 17:05 WIB
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Sosok dan kinerja Boediono jarang menjadi sorotan publik. Wakil presiden periode 2009-2014 ini lebih banyak disorot dalam isu hukum yang jauh dari bidang yang dikuasainya, ekonomi.

Bagi Boediono kritik itu ada yang membangun, ada juga yang tidak. Jadi kritik itu juga ada yang perlu didengar, ada juga yang tidak.

"Ada kritik yang bagus, harus didengar dan perlu ditindaklanjuti. Ada kritik yang hanya komentar-komentar saja, tidak perlu ditanggapi serius," ujar Boediono saat berbincang dengan detikcom di kediamannya di Komplek Bappenas, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.

Boediono menyadari, sebagai pejabat publik pasti banyak menerima kritik dan saran dari berbagai pihak. Namun dia punya kiat bagaimana mengelola kritik tersebut.

"Sebagai pejabat harus pandai membedakan antara voice dan noise. Kalau voice itu ada artinya, kalau noise bunyi-bunyian, kalau perlu tidak didengarkan karena hanya bunyi-bunyian. Harus ditanggapi kalau perlu ditanggapi, kalau ngga perlu ya ngga usah, karena mengganggu," ungkap ayah 2 anak dan 5 cucu ini.



Pria yang akrab disapa Pak Boed ini juga memiliki banyak kesan selama karirnya di pemerintahan. Dalam karirnya, Boediono pernah menjabat beberapa posisi-posisi penting. Diantaranya, Gubernur Bank Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas.

Bagi pria yang lahir di Blitar, 25 Februari 1943 ini, semua pekerjaan memiliki kesan baik. Suatu pekerjaan yang dimulai dengan langkah yang baik, hasilnya juga akan baik.

"Hampir semua mengesankan dari segi pekerjaan. Buat kami, yang penting bisa selesai, ada yang belum selesai, tapi kita mulai dengan langkah baik,"kata pria berkacamata ini.

Namun dari semua pekerjaan itu, yang paling berkesan adalah ketika dirinya menjadi wapres pendamping Susilo Bambang Yudhoyono. Secara khusus Boediono mengucapkan terima kasih kepada tim dan staf di Istana Wapres yang dinilainya banyak membantu pekerjaannya.

"Yang paling berkesan ada hubungan kerja saya dengan para menteri, dengan presiden, saya enjoy. Hubungan saya dengan staf saya, secara khusus saya apresiasi mereka, itu sangat efektif, saya merasakan memiliki tim yang istimewa di belakang layar, untuk melayani diberbagai bidang. Merekalah yang banyak mengerjakan di dapur dibanding saya yang di loket, di depan," tutur Guru Besar UGM ini.

Harapan 70 Tahun RI Merdeka

Indonesia memasuki usia 70 tahun sejak kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing. Menurut Boediono, usia 70 bagi sebuah bangsa adalah masa-masa remaja.

Masa-masa remaja inilah masa-masa krusial. Oleh karena itu, perlu dibentuk sendi-sendi yang kokoh untuk membangun masa depan bangsa.

"Saya mengibaratkan bangsa sebagai manusia, pada saat remaja inilah dibentuk sendi-sendi yang kokoh, yang benar untuk mencapai sasaran 100-200 tahun kedepan. Ini krusial sekali, menata kehidupan di berbagai bidang ekonomi, politik, sosial, hukum, keamanan, semua perlu ditata," kata istri Herawati ini.

Bagi Boediono menata bangsa melalui program jangka panjang sangat penting. Selama ini kita hanya fokus pada penataan bangsa pada program jangka pendek.

"Jangan sampai itu terpinggirkan karena kita sibuk mengatasi masalah jangka pendek. Jangka pendek harus diatasi, tapi jangan lupa jangka panjang ini ada, tugas dan tanggungjawab kita untuk menata. Moga-moga bisa dilakukan oleh pejabat yang sedang menjabat dan yang akan menjabat," harapnya. (mpr/mad)