Kapolres Bekasi: Evan Siswa SMP Flora Meninggal di Rumahnya

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Rabu, 05 Agu 2015 19:07 WIB
Jakarta - Polisi menghentikan proses penyelidikan terkait kasus Evan, siswa SMP Flora yang awalnya diduga meninggal dunia karena kelelahan terkait Masa Orientasi Sekolah (MOS). Dari hasil pemeriksaan, Evan meninggal dunia di kediamannya.

"Bahwa sebenarnya tanggal 30 Juli Evan sudah meninggal di rumah almarhum sendiri. Hal ini diperkuat keterangan saksi yang sempat menempelkan telinga ke dada korban," ujar Kapolres Bekasi Kota, Kombes Daniel Bolly Tifaona dalam konfrensi pers di kantornya,  Bekasi Selatan,  Kota Bekasi, Rabu (5/8/2015).

Keempat saksi yakni Endang, Anita, Refly, dan Slamet yang telah diperiksa oleh penyidik, mengatakan keempatnya saat berada di rumah almarhum sudah tidak terdengar detak jantung Evan. Bahkan untuk lebih meyakinkan, salah seorang saksi menempelkan kaca di hidung almarhum.

"Saat ditempelkan kaca tidak ada eembusan angin. Keempat saksi juga melihat kondisi tubuh Evan sudah biru pucat. Sebelumnya dibawa ke rumah sakitm keempat saksi juga sempat melakukan tindakan dengan menekan dada, namun tidak ada reaksinya. Mulai saat itu di rumah tersebut tetangga sudah mengetahui Evan telah meninggal. Namun karena melihat ibu korban teriak histeris tidak ada yang berani mengungkapkan kondisi Evan telah meninggal dunia. Sehingga salah satu tetangga berinisiatif untuk bilang biar dokter yang memastikan dengan dibawa ke rumah sakit," paparnya.

Daniel menjelaskan almarhum Evan pertama kali dibawa ke Rumah Sakit Sayang Bunda dengan jarak kurang lebih 5 menit. Sesampai di rumah sakit, petugas medis langsung menolak meski belum dilakukan pemeriksaan secara medis.

"Saat itu suster juga telah mengetahui kalau almarhum tidak bernyawa sehingga ditolak dengan alasan tidak ada peralatan," paparnya.

Lantaran dapat penolakan dari Rumah Sakit Sayang Bunda, Almarhum Evan dibawa dengan mobil ke Rumah Sakit Citra Indah. Jarak tempuh dari rumah sakit tersebut sekitar 25 sampai 35 menit.

"Saat di sana diterima Dr Daniel, saat tiba di rumah sakit korban sudah meninggal. Daniel sendiri telah mengetes dengan alat EKG, setelah dipasang ternyata tidak ada denyut nadi sehingga disimpulkan korban sudah meninggal sejak 35 sampai 40 menit yang lalu," papar Daniel.

Menurutnya, jika ditarik runut ke belakang ditemukan benang merah kalau almarhum telah meninggal dirumahnya. Hal itu diperkuat berdasarkan keterangan keempat saksi yang telah di BAP penyidik Polres.

"Karena dari awal sudah di cek nadi leher, cek nadi tangan kemudian ditempelkan jari ke hidung korban, bahkan sampai kaca yang ditempelkan ke hidung korban tidak berembun. Logika ini sangat sederhana karena kalau memang korban itu pingsan pasti masih mengeluarkan udara tapi faktanya tidak berembun. Mereka (keempat saksi) sendiri sudah mengetahui korban meninggal dunia namun waktu itu ibunya Evan teriak histeris sehingga tidak ada yang berani memberi tahu. Sehingga dapat kita simpulkan almarhum meninggal di rumahnya sendiri saat itu yang ada dirumahnya ibu kandung saudara Evan sendiri," paparnya.

Kasus kematian Evan jadi ramai lantaran banyak yang menduga, siswa SMP itu tewas akibat MOS. Sontak hal ini menarik perhatian KPAI hingga Kemendikbud yang gencar sosialiasi penghapusan MOS siswa sekolah.

"Hasil penyelidikan kita sendiri tidak menemukan ada tanda-tanda atau kegiatan, bahkan gerakan yang membahayakan para siswa. Bahkan kita telah mengambil keterangan siswa yang satu grup dengan almarhum. Perlu diketahui kalau saat MOS, satu grup itu dibagi empat siswa dan ketiga rekan Evan yang satu grup satu mos sudah kita ambil keterangan. Mereka mengatakan selama MOS Evan tidak mengeluh sakit pada 9 Juli saat itu," paparnya.

Daniel mengatakan adapun keluhan yang dirasakan oleh Evan terjadi pada tanggal 10 hingga 11 Juli. Saat itu almarhum mengeluh sakit kemudian dibawa tukang urut oleh ibunya.

"Karena yang namanya tukang utur tahunya kalau bengkak itu diurut. Sementara yang namanya Asam Urat tidak diurut, keterangan Asam Urat diperkuat oleh keterangan bapaknya. Kemudian pada tanggal 11-27 Juli Evan melakukan aktivitas seperti biasa saat itu tidak ada yang dikeluhkan oleh Evan. Hingga akhirnya pada tanggal 28 Juli Evan mengalami kejang kemudian dibawa puskesmas, dokter sendiri meminta ibunya untuk meronsen betis Evan yang bengkak tapi tidak dilakukan, kenapa? Ya mungkin ibunya kesulitan biaya," sambungnya.

Tidak Akan Autopsi Jenazah Evan

Autopsi tidak akan dilakukan terhadap jenazah Evan. Sebab pihak keluarga telah menandatangani surat pernyataan di atas materai tidak melakukan autopsi dan tidak menuntut sekolah.

"Kenapa tidak dilakukan autopsi, karena kalau kami lakukan autopsi untuk mencari tahu penyebab kematian kami harus menemukan tersangka, dan tersangka dalam kasus ini bisa kita terapkan pasal 359 tentang kelalaian," paparnya.

"Siapa calon tersangka pasti hal itu akan ditanyakan oleh teman-temannya. Saya punya pertimbangan lain karena jika kita gali jenazahnya yang jelas tersangka pasti ibunya. Nanti ketika ibunya ada tersangka ada cerita baru lagi karena saya telah menghukum ibunya dua kali pertama kehilangan Evan kedua menjadi tersangka atas kematian anaknya. Sehingga kami berpendapat ibunya sudah kehilangan Evan secara logika orang tua manapun tidak mau kehilangan anaknya. Saya sebagai Kapolres Bekasi Kota mengambil pertimbangan hal itu sehingga tidak akan lakukan autopsi. Kasus kita tutup, sesuai permintaan keluarga," kata Daniel.

(edo/fdn)