Kisah Sukses Wahyudin, Pemulung Ganteng yang Kini S2 di ITB

#detikcomEffect

Kisah Sukses Wahyudin, Pemulung Ganteng yang Kini S2 di ITB

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Kamis, 09 Jul 2015 10:09 WIB
Foto: Wahyudin (dok. pribadi)
Foto: Wahyudin (dok. pribadi)
Jakarta - Peran media dalam memberikan informasi positif sangat bermakna dari seorang Wahyudin (24) yang pernah 'berprofesi' sebagai pemulung selama 12 tahun. Kini pemuda tampan itu tengah menyelesaikan studi magister di ITB dan segera menatap kuliah S3 di luar negeri.

"Cerita saya dimuat di media dan saya terima kasih sekali sama detikcom, Alhamdulillah saya dapat respons yang positif dari teman-teman di luar sana. Banyak para pembaca yang terinspirasi dengan cerita saya, mereka jadi lebih semangat untuk mengejar pindidikan, misalnya ada yang kirim surat dari Makassar ada juga yang sms, ada yang bilang berita saya di detikcom di-print terus ditempel di tembok mereka. Jadi setiap mereka malas belajar, mereka baca itu jadi mereka semangat lagi," ungkap Wahyu saat berbincang kembali dengan detikcom, Kamis (9/7/2015).

Awal cerita Wahyu dimuat oleh media waktu itu adalah pada tahun 2013, saat dia masih memulung demi membayar biaya kuliah S1 di UHAMKA. Dia mengambil jurusan manajemen waktu itu.

Dia pun bercerita bahwa aktifitas memulung dilakukan sejak duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Memulung sejak dini hari pukul 02.00 WIB sampai waktu salat shubuh setiap hari, kemudian bersiap sekolah sambil jualan gorengan.

Sepulang sekolah beristirahat sebentar hingga sore, lalu kembali memulung hingga pukul 22.00 WIB. Beristirahatlah dia di tempat memulung berpayung bintang-bintang dan ditemani rembulan. Hingga pukul 02.00 WIB dia lanjutkan lagi pekerjaannya dan terus hingga tahun 2013.

Rasa kantuk di kelas dia lawan dengan bantuan minyak kayu putih dan balsam yang dioleskan dekat mata agar melek. Tetapi jalan hidupnya kemudian berubah setelah banyak orang kenal dirinya di detikcom.

Ada yang kemudian memberi modal untuk dia gunakan beternak entok, hingga ada pula yang bersedia menjadi orang tua angkat. Dia menganggap pihak-pihak yang memberikan kepada dia sebagai orang tua angkat, termasuk keluarga Ustad Husen Alatas.

"Saya pernah dikasih uang dari Australia, dia orang Indonesia suaminya Australia. Dia cuma baca dari detikcom terus hubungi saya di facebook, enggak pernah tatap muka, dia bantu untuk peternakan sekitar Rp 4 juta. Jadi peternakan itu modalnya dari (salah satu) orang tua angkat, dari orang di Australia," kata dia.

Semangat Wahyu untuk belajar pun menarik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan beasiswa S2 di program Magister of Bussiness Administration (MBA) ITB. Sebenarnya dia pun ditawari untuk mengambil S2 di luar negeri tanpa tes karena prestasi dan semangat belajarnya.

"Dari saya pribadi setelah muncul di detikcom itu saya banyak dikenal orang dan dari Kemendikbud datang ke rumah saya. Salah satu stafnya mengatakan, saya dapat beasiswa unggulan walau tanpa tes, saya boleh kuliah di luar negeri bebas pilih negara mana aja. Saya memang ingin sekali kuliah di luar negeri, tapi saya bertanya lagi di hati saya yang paling dalam, saya belum umroh, saya punya cita-cita, negara pertama yang harus saya datangi adalah Arab Saudi, saya ingin ke Mekah," tutur dia.

Maka itu dia kemudian memilih program magister di dalam negeri dan dites bahasa Inggris. Kehidupannya benar-benar berubah dan dia berniat melanjutkan studinya ke S3.

"Semoga detikcom selalu memberi pengetahuan bagi pembacanya. Semoga selalu menginspirasi dan memotivasi para pembacanya," ungkap Wahyu mendoakan agar detikcom mantap, tepat di hari jadi yang ke-17 pada hari ini. (bag/van)