DetikNews
Kamis 04 Juni 2015, 13:25 WIB

Praperadilan Novel Baswedan

Kakak Ceritakan Awal Penangkapan Novel Hingga ke Dibawa Mako Brimob

Rini Friastuti - detikNews
Kakak Ceritakan Awal Penangkapan Novel Hingga ke Dibawa Mako Brimob
Jakarta - Taufik Baswedan yang merupakan saudara kandung Novel Baswedan memberikan kesaksiannya dalam sidang praperadilan Novel di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam kesaksiannya, Taufik menceritakan awal mula peristiwa penggeledahan dan penangkapan Novel pada 1 Mei 2015 lalu.

"Pukul 01.00 WIB saya ditelepon ‎istri Novel. Dia memberikan kabar bahwa Novel didatangi penyidik Bareskrim. Kemudian jam 05.00 WIB pagi saya datang ke Bareskrim," kata Taufik di hadapan hakim tunggal Zuhairi saat persidangan, Kamis (4/6/2015).

Pagi itu, Taufik bersama tim kuasa hukum mendatangi Bareskrim, namun dihalangi oleh petugas jaga untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.‎ Mereka ditahan di depan Bareskrim dengan alasan hal itu merupakan perintah atasan.

"‎Alasannya macam-macamlah, itu perintah pimpinan, kami tanya pimpinan yang mana, mereka cuma bilang ini perintah pimpinan," kata Taufik.

‎Gagal masuk, akhirnya pukul 07.00 WIB, kabareskrim Komjen Budi Waseso mengadakan konferensi pers di depan Bareskrim. Saat itulah akhirnya Taufik dan tim pengacara menghampiri Buwas untuk meminta ijin masuk ke dalam mendampingi Novel.

"‎Baru dipersilakan masuk oleh Kabareskrim. Saya, Usman Hamid dan tim lawyer dibawa ke lantai 3. Kami bertemu dengan Novel. Lalu kami duduk mendampingi dia sampai jam 11.00 WIB.‎ Waktu itu Novel baru BAP, tapi Novel tidak mau tandatangan, tapi disodorin lagi berita acara penolakan penangkapan," jelasnya.

"Setelah itu apakah ada proses BAP?," tanya kuasa hukum Novel.

"Tidak ada. Bahkan kami (semua termasuk novel) minta untuk diperiksa. Tapi penyidik menjawab, Novel diperiksa nanti di Mako Brimob. Kami tanya kenapa? Dijawab perintah pimpinan diperiksa di Mako Brimob," kata Taufik.

"Kami terus berdebat, lalu penyidik keluar ruangan jam 11.00 WIB, lalu masuk lagi sambil membawa surat perintah penahanan, Novel dibawa ke Mako Brimob untuk ditahan," sambungnya.‎

Usai ditahan selama beberapa jam di lantai 3 Bareskrim, pukul 11.00 WIB Novel lalu dibawa ke Mako Brimob, namun tak diperiksa. "Kami mengikuti di belakang mobil penyidik saat Novel dibawa ke Mako Brimob," ujar Taufik di persidangan, Kamis (4/6/2015).

"Apakah Novel diperiksa di Mako Brimob?"‎ tanya salah seorang kuasa hukum."Tidak," jawab Taufik.

Usai ditahan selama beberapa jam di lantai 3 Bareskrim, pukul 11.00 WIB Novel lalu dibawa ke Mako Brimob, namun tak diperiksa.

"Kami mengikuti di belakang mobil penyidik saat Novel dibawa ke Mako Brimob," ujar Taufik di persidangan, Kamis (4/6/2015).

Taufik bersama tim kuasa hukum sampai di Mako Brimob pukul 12.00 WIB. Awal sampai, petugas mempersilakan mereka untuk masuk mendampingi Novel. Namun baru setengah jalan, rombongan tersebut kembali dipanggil petugas untuk menunggu di luar Mako Brimob.

"Awalnya oleh penjaga pos depan diijinkan dan kami masuk. Di dalam kami juga ditunjukkan tempatnya. Tapi dikejar lagi oleh Brimob yang berjaga untuk disuruh kembali lagi ke depan. Kami tanya kenapa, mereka terus minta kami untuk kembali ke depan. Mereka jug meminta untuk keluar Mako, tapi kami tetap bertahan di dalam," jelas Taufik.

Tak puas dengan keadaan itu, salah seorang tim kuasa hukum lalu menelepon Kapolri, Jenderal Badrodin Haiti. "Salah satu rekan kami nelepon Kapolri. Pak Kapolri lalu menyampaikan untuk memberi ijin masuk. Setelah itu komandan Brimob datang, ngobrol selama 20 menit akhirnya kami diperbolehkan masuk," kata dia.

Di dalam, ternyata mereka bertemu Novel yang saat itu berada di ruang tahanan, dan tidak diperiksa. "Hingga pukul 15.30 WIB, lalu kami keluar Mako Brimob. Novel masih ditahan disana dengan keadaan belum diperiksa," jelasnya.

20 menit setelah Taufik dan rombongan keluar Mako, dirinya kaget ketika seorang rekan menelepon dan mengabarkan bahwa Novel telah dibawa ke Bengkulu.

"Saat itu kami kaget, kenapa tiba-tiba dibawa ke Bengkulu? Katanya sudah dibawa ke bandara Pondok Cabe dan dibawa ke Bengkulu untuk rekonstruksi kasus. Kami telepon kepala Rutan, dan dia mengkonfirmasi," tutur Taufik.

"Apakah sebelumnya ada pemberitahuan rekonstruksi?," tanya kuasa hukum Novel.

"Tidak ada‎. Kami tidak pernah mendengar dan menerima penyampaian dari penyidik," tutupnya.



(rni/faj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed