Dalam foto-foto yang dilansir Reuters, Rabu (20/5/2015), terlihat ada perlombaan makan kerupuk yang digelar di pengungsian. Sebuah tali rafia dibentangkan, lalu beberapa kerupuk diikat sesuai tinggi para peserta lomba yang didominasi anak-anak.
Kemudian, mereka berlomba menghabiskan kerupuk itu dengan tangan dilipat ke belakang. Tak ada yang boleh memegangnya. Senyum merekah dari bocah-bocah pengungsi tersebut saat lomba digelar.
Menurut reporter Reuters, kegiatan ini merupakan bagian dari program penghilangan trauma bagi para pengungsi anak-anak. Para relawan di shelter pengungsian, memang setiap hari membuat aktivitas yang bisa membuat para pencari suaka itu bisa terhibur.
Indonesia sudah menampung sedikitnya 13 ribu pengungsi dari 41 negara. Yang terbaru saat ini berasal dari muslim Rohingya dan para pencari kerja dari Bangladesh.
Pada Selasa kemarin, sebanyak 96 imigran asal Bangladesh dan Myanmar yang semula terdampar di perairan Langkat dikirim ke Medan, Sumatera Utara (Sumut). Mereka kini diinapkan di hotel.
Para imigran itu pun menetap sementara di Hotel Beraspati, Jalan Jamin Ginting, Kilometer 10,2. Pada Selasa (19/5/2015) pagi, sejumlah imigran terlihat beristirahat di depan kamar hotel, ada juga yang bercengkerama.
Ketika waktu makan tiba, petugas mendatang setiap kamar dengan memberi makanan dan minuman. Senyum pun terpancar dari wajah para imigran. Dengan wajah penuh ceria, mereka pun makan bersama-sama dengan teman sekamar. Awalnya yang tak kenal satu sama lain, kini mereka bersatu seperti bersaudara.
Salah satu imigran Bangladesh, Muhammad Masud (22) mengaku sangat senang ketika berada di penampungan sementara ini.
"The Indonesia people is a very good. Thanks Indonesia, thanks Indonesia people, thanks to all," kata Masud.
(Rachmadin Ismail/Nograhany Widhi K)










































