Mensos Teliti Tingginya Gugat Cerai di Purbalingga, Bupati: Batu Akik Jadi Solusi

- detikNews
Minggu, 22 Mar 2015 18:30 WIB
Ilustrasi akik
Purbalingga - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengaku tengah melakukan riset mencari penyebab tingginya gugat cerai di Kabupaten Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Dugaan sementara, fenomena ini disebabkan tulang punggung keluarga telah beralih dari suami ke pihak istri.

“Sejak menjadi menteri pemberdayaan perempuan, saya sudah tertarik untuk mengkaji ini. Kenapa di kabupaten-kabupaten ini termasuk Purbalingga, angka perceraiannya tinggi. Dan menariknya, inisiatif itu mayoritas datang dari pihak istri,” kata Mensos Khofifah saat mengunjungi Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Minggu (22/3/2015).

Dari Catatan Kantor Kementerian Agama Purbalingga, angka perceraian dengan inisiatif dari pihak istri di Purbalingga hampir menyentuh 20 persen dari jumlah pernikahan. Sedangkan jumlah pernikahan di Purbalingga berada di kisaran 10 sampai 11 ribu per tahun.

"Saya juga sedang menulis buku tentang pengarusutamaan gender dikaitkan dengan upaya mempertahankan keharmonisan keluarga,” ujarnya.

Dalam buku itu, Khofifah menegaskan seharusnya dengan tingginya penerapan pengarusutamaan gender tidak sampai menyebabkan disharmoni keluarga yang berbuntut perceraian. Karena dalam setiap disharmoni (pertengkaran dan perceraian), yang paling merasakan dampak buruk tentu saja anak-anak yang tidak bersalah.

“Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, selalu melihat kedua orang tuanya bertengkar, akan mengalami trauma berkepanjangan. Baik disadari atau tidak disadarinya,” ungkapnya.

Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto mengatakan pihaknya sudah berupaya mencari jalan keluar menyelesaikan permasalahan tersebut. Hingga akhirnya, dalam dua hingga tiga bulan terakhir pihaknya mengaku tren batu akik dapat menurunkan angka gugat cerai di Purbalingga.

“Sejak ada tren batu akik, angka gugat cerai menurun. Yang semula angka perceraian mencapai 2.300, sekarang turun menjadi 1.800. Rupanya sang suami sekarang sudah bekerja, menjadi perajin batu akik,” jelasnya.

Menurut dia, sekali mengasah satu batu akik, perajin menerima Rp 25 ribu. Jika sehari terdapat 4 pelanggan, perajin sudah dapat menerima Rp 100 ribu per hari. "Sebulan menjadi 3 juta, lebih dari KHL di Purbalingga. Karena sudah dianggap bertanggung jawab kepada keluarga, istri nggak jadi menggugat cerai,” jelasnya.



(nrl/nrl)