Misteri Tjipetir di Eropa

Save Tjipetir, Berusaha Mengembalikan Kejayaan Getah Perca di Mata Dunia

- detikNews
Jumat, 05 Des 2014 12:02 WIB
Pabrik Cipetir (foto:Syahdan/detikcom)
Jakarta - Pabrik Cipetir di Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jabar, sebetulnya masih menyimpan banyak potensi. Pasar untuk penjualan getah perca masih ada, lahan penanaman bibit pun tersedia. Mungkinkah kejayaan Cipetir kembali terulang?

Saat ini, kondisi pabrik Cipetir seperti 'mati suri'. Tinggal tujuh karyawan utama yang tersisa. Produksi blok karet pun seadanya. Bahkan kini, terpaksa terhenti karena kekurangan bahan bakar.

"Sekarang belum ada bensinnya, jadi belum bisa olah. Semacam bensol itu. Kalau ada bensin baru bisa ngolah lagi," kata penanggung jawab pabrik, Budi Prayudi, saat berbincang dengan detikcom, Jumat (5/12/2014).

Produksi bulanan pabrik saat ini 300 kilogram karet gutta. Itu untuk memenuhi pesanan beberapa perusahaan pengekspor ke luar negeri. Harga per kilogramnya adalah US$ 300.

"Pada tahun 2005 masih kuat 4 ton kalau saat ini paling 700 kilogram gutta tapi pemesan jarang sampai segitu," tambahnya.

Namun Budi yakin pabrik masih berkembang lagi. Bila ada investor yang serius, dia yakin pabrik itu kembali berjaya. Apalagi kini sudah dikenal masyarakat lewat kisah terdamparnya lempengan di Eropa.

"Pasar masih ada, bibit juga kita ada 1.000. Bisa dipanen 10 tahun lagi. Lahan kosong masih banyak, di tengah hutan itu ada kebun singkong, bisa kita tanami perca," terangnya.

PTPN memiliki lahan 6.000 hektar di kawasan tersebut. Kini sebagian besar ditanami kelapa sawit. Bila pabrik berkembang, bukan tidak mungkin sebagian lahan itu bisa kembali ditanami perca. Kejayaan Tjipetir yang mendunia pun bisa dibangkitkan lagi.

"Apalagi setelah heboh ini ada juga potensi wisata," tambahnya.

Anda tertarik berinvestasi di Cipetir?

(mad/try)