Misteri Tjipetir di Eropa

Cerita Ki Adung, Saksi Hidup Pabrik Tentang Misteri Karet Tjipetir di Eropa

- detikNews
Kamis, 04 Des 2014 17:13 WIB
dok: Tracey Williams
Jakarta -

Kapan sebenarnya produk lempengan getah perca Tjipetir yang tersebar di Eropa diproduksi? Belum ada yang tahu pasti. Namun cerita Ki Adung, seorang kakek yang jadi saksi hidup pabrik tersebut mungkin bisa jadi petunjuk.

Budi Prayudi, pengawas dan penanggung jawab pabrik Cipetir menyebut, ada dua sosok sesepuh pabrik yang kini masih hidup. Mereka adalah Ki Adung dan Uci. Adung lahir tahun 1925, tiga tahun setelah pabrik itu diresmikan. Sementara Uci sebaya dengan Adung.

"Beliau lahir di sini dan jadi pegawai pabrik setelah berusia 33 tahun," kata Budi kepada detikcom, Kamis (4/12/2014).

Menurut Budi, Adung memiliki keterbatasan fisik mengingat usianya yang sudah renta. Namun ingatannya sangat kuat. Kepada Budi, Adung bercerita soal kemungkinan lempengan karet Tjipetir yang beredar di Eropa itu diproduksi.

"Menurut beliau sebelum tahun 1925 diproduksinya. Waktu itu dia cerita memang produksinya masih berbentuk persegi dan pabrik pun bangunannya masih dibuat dari kayu," cerita Budi.

Dari dokumentasi video milik Belanda, pabrik itu memang sudah ada sejak tahun 1885. Namun kala itu baru dilakukan penanaman biji perca. Butuh waktu 10-14 tahun untuk memanennya. Sehingga, produksi diperkirakan baru berjalan sekitar tahun 1900-an. Seremoni peresmian pabrik, kata Budi, digelar pada tahun 1921.

"Kemungkinan barang yang sampai Eropa itu yang diproduksi sebelum tahun 1921. Kalau benar dari Titanic, kan kapalnya tenggelam 1912, kalau kapal Miyazaki Maru tahun 1917," prediksi Budi.

Ditambahkan Budi, Adung juga bercerita sudah terjadi perubahan tiga bentuk hasil produksi Tjipetir dari dulu hingga sekarang. Bila awalnya berbentuk persegi panjang, pernah juga berubah jadi bujur sangkar, hingga kini bulat.

"Pokoknya beliau bilang ada tiga lempengan, nah, yang persegi panjang itu yang pertama produksi," paparnya.

Sayangnya, tak ada bukti otentik yang bisa mendukung testimoni dari Adung. Mertua Budi yang pernah bekerja di Cipetir pada tahun 1967 menyebut, Adung pernah bekerja sebagai kernet truk. Uci pun demikian. Sepanjang pengetahuiannya, lempengan Tjipetir sejak dulu sudah berbentuk bulat.

Upaya menguak bagaimana perjalanan lempengan Tjipetir pun hingga kini masih belum membuahkan hasil. Kemunculan lempengan Tjipetir di pantai Eropa sepertinya bakal masih tetap jadi misteri.

Yang jelas, pabrik Tjipetir di Cikidang, tidak akan berhenti berproduksi. Meski hanya tersisa 7 karyawan dan orderan produksi yang pas-pasan, tekad Budi dan karyawan lain untuk tetap memproduksi karet getah perca yang berkualitas tidak akan berhenti.

"Sekarang harganya US$ 300 per kilogram. Sebulan paling kita hanya bisa produksi 300 kilogram. Lumayanlah (untungnya) tipis-tipis," ungkap Budi sambil tertawa.

(mad/nrl)