DetikNews
Jumat 24 Oktober 2014, 06:39 WIB

Kenangan Gayatri Saat Tampil di TV dan Bicara dengan 9 Bahasa

- detikNews
Kenangan Gayatri Saat Tampil di TV dan Bicara dengan 9 Bahasa Gayatri Wailisa (dok. Youtube)
Jakarta -

Si anak ajaib, Gayatri Wailisa kini telah tiada. Kenangan akan sosok gadis dengan kemampuan bahasa yang sangat istimewa itu tak akan mudah dilupakan.

Di usia yang belum genap 17 tahun, gadis Ambon itu sudah menguasai 14 bahasa dari berbagai negara. Tak hanya itu, Gayatri juga pernah mendapatkan berbagai penghargaan atas prestasi-prestasinya semasa hidup.

Salah satu kenangan tentang sosok Gayatri yang hingga kini masih bisa dilihat adalah ketika dia memamerkan kemampuannya berbicara dalam 9 bahasa dalam acara Hitam Putih yang ditayangkan Trans7 pada 31 Agustus 2013 lalu. Saat itu, Gayatri yang baru berusia 16 tahun bisa dengan lancar berbicara dengan 9 bahasa dengan rumpun yang sangat berbeda.

Dalam video yang dilihat di Youtube, Jumat (24/10/2014) Gayatri menjadi bintang tamu acara yang dipandu Deddy Corbuzier itu bersama dua tamu lain yakni Bunga Citra Lestari dan Nirina Zubir. Gayatri saat itu menjadi bintang tamu termuda dalam acara itu.

Kepada Deddy Corbuzier, Gayatri mengaku saat itu sudah menguasai 9 bahasa. Dia juga tengah belajar dua bahasa lain, salah satunya adalah bahasa hindi Nepal.

Deddy yang tak percaya dengan pengakuan Gayatri langsung menantang gadis itu untuk berbicara dalam sembilan bahasa. Tanpa basa-basi, Gayatri langsung menunjukkan kemampuannya berbicara dengan sembilan bahasa, antara lain Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Arab, India, Mandarin, Jepang, dan Thailand.

Bintang tamu yang lain berserta para penonton dibuat tak bisa berkata-kata saat melihat kemampuan Gayatri yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Semua orang di ruangan itu dibuat kagum oleh Gayatri.

Gadis yang bercita-cita ingin menjadi seorang dipomlat itu menceritakan awal mula ketertarikannya belajar bahasa. Menurutnya, dia mulai belajar bahasa sejak pertama kali bisa mengucap kata 'mama'.

Yang lebih mencengangkan, Gayatri tidak pernah mengikuti kursus bahasa. Keluarganya sangat sederhana sehingga tak mampu untuk membiayai jika Gayatri harus mengikuti kursus.

Tak peduli dengan keterbatasan ekonomi, Gayatri tetap bertekad untuk bisa menguasai banyak bahasa. Dia mulai menonton film dan mendengarkan lagu dari berbagai negara. Dari film dan lagu-lagu itu dia mulai mengenal dan familiar dengan bahasa dari berbagai negara.

Selain itu, Gayatri juga pandai memanfaatkan teknologi. Dia memanfaatkan jejaring sosial untuk berhubungan dengan berbagai orang dari berbagai negara dan belajar bahasa dari teman-teman di jejaring sosialnya.

"Aku punya guru yang bisa langsung menunjukkan kalau aku salah. Aku punya banyak teman chatting, sekitar 10 orang setiap negara dan aku belajar dari mereka," kata Gayatri saat ditanya soal caranya belajar.

Selain itu, Gayatri mengaku sering berbicara di depan cermin dengan berbagai bahasa. Menurutnya, ketika dia berbicara di depan cermin, dia bisa tahu saat dirinya salah mengucapkan suatu kata.

Atas kemampuannya itu, Gayatri pernah menjadi delegasi Indonesia di tingkat Asean dan mengikuti pertemuan anak di Thailand dalam Convention on the Right of the Child (CRC) atau Konvensi Hak-Hak Anak tingkat ASEAN. Dia juga pernah menjadi perwakilan Indonesia dalam forum PBB.

Ternyata, Gayatri tak hanya pandai di bidang linguistik. Dia juga pandai di bidang seni, terutama dalam memainkan instrumen musik biola. Menurutnya, bermain biola bisa menjaga kemampuan konsentrasinya.

Sayang, kini Gayatri telah tiada. Pendarahan di kepala menjadi penyebab si anak ajaib itu meninggal.

Gayatri meninggal Kamis (23/10) sore di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta. Nyawanya tak tertolong, meski sudah menjalani perawatan karena pembuluh darah di kepalanya pecah.

Sebelumnya Gayatri tidak pernah mengeluh sakit. Tiba-tiba, dia jatuh pingsan saat sedang berolah raga di kawasan Senopati.

Padahal, saat ini Gayatri tengah menjalani proses untuk masuk ke perguruan tinggi dan duduk sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional. Satu jenjang lebih dekat menuju cita-citanya yang ingin menjadi diplomat.

Kepastian soal meninggalnya Gayatri ini didapat dari Pangkam V/Brawijaya Mayor Jenderal Eko Wiryatmoko. Mayjend Eko Wiryatmoko merupakan mantan Panglima Kodam XVI/Pattimura. Mayjend Eko adalah orang yang pertama kali menemukan bakat luar biasa Gayatri. Eko pun sangat dekat dengan Gayatri.

Selamat jalan Gayatri Wailisa, anak ajaib penguasa 14 bahasa.


(kha/kha)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed