CEO General Electric Indonesia Handry Satriago:

Followership, Cara Pandang Terbalik terhadap Leadership

- detikNews
Selasa, 26 Agu 2014 10:12 WIB
Foto: Shohib Masykur/detikcom
Washington DC -

Di atas kursi rodanya, Handry Satriago duduk menghadap ke arah audiens. Suaranya mantab dan membahana, dipenuhi antusiasme yang membuncah ketika menyapa para pendengarnya. Aura optimisme yang terkandung di setiap kata yang dia ucapkan menguar memenuhi seantero ruangan.

"Kita sudah sering bicara tentang leadership, tapi kita jarang bicara tentang followership. Di zaman sekarang, Anda tidak bisa jadi pemimpin yang baik jika Anda tidak memiliki pengikut yang baik. Leadership penting, tapi followership juga penting," kata pria yang menjabat sebagai CEO General Electric Indonesia itu.

Hari itu, Sabtu (24/8/2014) menjelang senja, Handry yang kebetulan sedang berada di Amerika didaulat untuk menjadi pembicara pada diskusi mengenai leadership di hadapan diaspora Indonesia yang tinggal di Washington DC dan sekitarnya. Bertempat di sebuah ruangan di kantor Bank Dunia, diskusi yang diinisiasi oleh Ikatan Alumni UI Cabang Amerika Serikat itu dihadiri oleh sekitar 50 peserta.

Handry mengawali dengan bertutur mengenai kondisi dunia di era globalisasi saat semua wilayah di seluruh penjuru bumi saling terhubung dan saling mempengaruhi. Apa yang terjadi di suatu negara akan berdampak secara regional maupun global, sehingga mempengaruhi negara lain yang secara geografis bahkan terletak berjauhan.

Dalam kondisi seperti itu, dunia berubah dengan sangat cepat, sehingga cara berorganisasi pun harus menyesuaikan diri dan tanggap terhadap perubahan yang cepat tersebut. Di situlah letak pentingnya leadership dan followership.

Menurut Handry, organisasi tanpa pengikut yang baik rentan untuk hancur, baik itu dalam politik maupun dalam bisnis. Sebaik apapun kapasitas seorang pemimpin, jika dia dikeliling oleh pengikut yang buruk, maka pengikut itu bisa mendatangkan kehancuran buat sang pemimpin.

Pengikut yang baik, lanjut Handry, adalah mereka yang bisa menghasilkan ide dan nilai. Mereka juga harus kritis dan punya pendirian, sanggup dengan tegas mengatakan ‘tidak’ jika memang diperlukan. Mereka tidak semata bekerja seperti robot dan melakukan apapun perintah pimpinan demi menghasilkan profit buat perusahaan.

"Mereka yang selalu bilang ‘yes’ adalah pengikut yang buruk. Dari pengikut seperti itu, pemimpin tidak akan mengetahui kondisi yang sesungguhnya jika terjadi masalah. Kita butuh pengikut yang bisa menghasilkan ide dan memberikan masukan," tutur Handry.

Menurutnya, jalur pengaruh antara pemimpin dan pengikut tidak hanya satu arah. Pemimpin mempengaruhi pengikut, namun pengikut juga bisa mempengaruhi pemimpin. Banyak studi menunjukkan bahwa pengikut yang diberi ekspektasi besar oleh pemimpinnya akan cenderung menghasilkan performa yang baik. Hal sebaliknya juga terjadi. Pemimpin yang diberikan ekspektasi besar oleh pengikutnya juga akan cenderung menampilkan performa yang baik. Oleh karena itu, kata Handry, perubahan dalam suatu organisasi tidak hanya ditentukan oleh pemimpin, tetapi juga oleh pengikut.

Cerita mengenai Handry telah banyak diulas di media massa. Pria kelahiran Pekanbaru, Riau, 13 Juni 1969 itu sudah hampir 30 tahun duduk di atas kursi roda lantaran kanker getah bening yang dideritanya sejak usia 17 tahun. Meski sempat terpuruk di masa-masa awal, namun akhirnya Handry bangkit dan memutuskan untuk "berlari" dari atas kursi roda.

Karena kegigihan yang berlapis mental baja, Handry berhasil mencapai banyak hal dalam hidupnya. Tahun 2010, di usia 41 tahun, Handry dipercaya untuk memimpin GE Indonesia, menjadikannya CEO termuda dalam seabad lebih sejarah perusahaan yang didirikan oleh penemu bola lampu Thomas Alva Edison tersebut.

Hal yang lebih membanggakan lagi buat Handry adalah dia merupakan produk asli Indonesia, dalam artian dia lahir dan dibesarkan di Indonesia serta mengenyam pendidikannya dari SD hingga S3 di Indonesia. Dalam organisasi bisnis kelas dunia seperti GE yang sangat kompetitif, bersaing dengan mereka yang mengenyam pendidikan di luar negeri tentunya bukan perkara mudah.

"Saya produk asli Indonesia. Tidak ada yang salah dengan itu, dan saya bisa bersaing dengan yang lain," ujar lulusan Institut Pertanian Bogor ini mantab.

Hebatnya lagi, kebanggaan itu tidak dia nikmati sendiri. Dia berupaya agar GE Indonesia dipenuhi oleh orang-orang Indonesia yang bangga bekerja untuk berkontribusi bagi Indonesia. Dan dia berhasil.

"Sekarang hampir semua pegawai GE Indonesia adalah orang Indonesia," kata pria yang gemar membaca novel ini.

Handry menggenggam mimpi untuk berkontribusi memajukan Indonesia dengan mencetak orang-orang muda yang memiliki kemampuan memimpin. Karena itulah dengan senang hati dia meluangkan waktunya untuk keliling Indonesia guna berbagi dengan orang-orang muda.

"Pada akhirnya, tugas pemimpin adalah mencetak pemimpin-pemimpin yang lain," ujarnya penuh semangat.

(try/try)