Buka Jalan Mega untuk Jokowi Menuju Istana

- detikNews
Kamis, 10 Jul 2014 11:29 WIB
(Ilustrasi: Edi Wahyono/Detikcom)
Jakarta -

“Saya telah mendapatkan mandat dari Ketua Umum PDIP Ibu Megawati Soekarnoputri untuk menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan. Dan dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya siap melaksanakannya.”

Petikan pernyataan dari Joko Widodo (Jokowi) itu menjadi pernyataan keras bahwa dirinya akan berkontestasi untuk menuju Istana. Pernyataan bekas Wali Kota Solo dan Gubernur nonaktif DKI Jakarta itu diikrarkan pada 14 Maret 2014, atau 5 bulan menjelang hari pencoblosan Pemilihan Presiden 9 Juli ini.

Tanda-tanda Jokowi bakal menjadi Capres sebelumnya masih ibarat perjudian. Hingga penggemar musik cadas ini mendeklarasikan diri atas perintah langsung Megawati. Sulit kiranya membayangkan bagaimana Jokowi dalam dua tahun terakhir mampu meroketkan diri pada level politik tertinggi di negeri ini.

Namun dapat dengan mudah bagaimana memperlihatkan PDI Perjuangan mempersiapkan kadernya dalam melihat posisi partai berlambang banteng itu berada di luar garis oposisi selama dua periode pemerintahan untuk mempersiapkan pengambilalihan kekuasaan.

Nomor satu di level kota, dan terbukti menang di tingkat provinsi memberi kemudahan bagi Jokowi untuk menjadi orang nomor satu. Terlepas dari polesan media massa yang mencitrakannya sedemikian rupa, karir Jokowi sangat mocer.

Belum selesai di situ, Jokowi pun memecah anggapan PDIP merupakan partai dengan trah Presiden RI ke-1 Sukarno, karena sebelumnya sempat didengungkan nama Megawati akan kembali berkompetisi dalam pesta demokrasi.

Menjelang deklarasi pencapresan, Jokowi, tak pernah sedikit pun menyatakan kesiapannya menjadi Capres dari PDIP, meskipun pada saat itu (hingga h-1) dirinya merajai hampir semua lembaga survei.

Awal 2014, menguatnya survei Jokowi memang tidak terbantahkan, meskipun kemudian terjadi fluktuasi dari hasil survei. Namun, beberapa bulan menjelang Pemilihan Legislatif 2014, ‘kode-kode’ mulai bertebaran yang menguatkan indikasi Jokowi menjadi calon terkuat partai nasionalis besutan Megawati.

Pada 10 Januari 2014, prosesi pemotongan tumpeng di hari ulang tahun ke-41 PDIP terbilang istimewa. Pemberian potongan tumpeng dari Megawati ke Jokowi membuat acara peringatan hari sakral itu menjadi perhatian publik. Potongan tumpeng didapat, Jokowi pun langsung mencium tangan Megawati. Tepuk tangan membahana.

Dari situ, berbagai spekulasi mengemuka, kemesraan antara senior dan juniornya itu dianggap sebagai “sinyal” adanya restu Megawati. Setidaknya ada beberapa yang bisa dilihat secara kasat, yang membulatkan rasa penasaran publik bahwa Megawati akan menjatuhkan pilihan kepada Jokowi yang pada akhirnya diusung bersama Jusuf Kalla sebagai wakil presiden.

Setahun setelah Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta, sangat sering pertemuan antara Megawati dan Jokowi terjadi. Bahkan bisa disebut sebagai jalan-jalan santai, blusukan, makan bersama di Warteg atau undangan makan malam di kediaman Megawati, di Teuku Umar, Jakarta Pusat.

“Sudah, eh belum, belum.” Petikan pernyataan Jokowi itu didapat saat mendapat kesekian kalinya pertanyaan dari wartawan, “Apakah Bapak sudah tahu bakal di capreskan PDI Perjuangan?” di Balai Kota DKI Jakarta (3/3).

Kode berikutnya, adalah ziarah Jokowi dan Mega ke makam Bung Karno yang menguatkan indikasi pilihan Megawati kepada sosok ‘ndeso’ itu pada 12 Maret 2014 di Blitar, Jawa Timur.

Sehari selepas melakukan ziarah, puluhan pengusaha dikumpulkan di DPP PDIP di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Tidak biasa, hari itu yang jatuh pada hari Kamis, Megawati menyebarkan 75 undangan. Sebanyak 60 di antaranya adalah pengusaha untuk pertemuan tertutup selama satu jam.

"Ini pertemuan simpatisan-simpatisan PDI Perjuangan untuk mendukung kampanye. Pengusaha yang membantu proses kampanye kita. Kita berikan formulir dan nomor rekening,” singkat Tjahjo Kumolo, mewakili Megawati yang enggan berbicara sepatah katapun saat itu.

Ucapan “titip Jakarta” yang sempat dilontarkan Jokowi sebenarnya menjadi ‘kode’ paling benderang. Ucapan tersebut dicetuskannya dalam sebuah apel di Balai Kota DKI Jakarta, 10 Maret 2014.

Jokowi hadir dari dahaga rakyat jelata. Dipoles sedemikian rupa, melalui opini media atau obrolan warung kopi, yang kemudian menyebar luas dengan gaya kepemimpinannya yang di luar kelaziman. Ia memangkas sekat birokrat yang kaku terharap rakyat. Hilangnya sekat membuat rakyat dekat dengan pemimpinnya yang biasa “duduk manis” di balik meja, termasuk meja Istana Negara.

(brn/brn)