DetikNews
Sabtu 31 Mei 2014, 12:33 WIB

Vonis dr Ayu Bersalah, Ini Dasar Analisa Hakim Agung Prof Dr Surya Jaya

- detikNews
Vonis dr Ayu Bersalah, Ini Dasar Analisa Hakim Agung Prof Dr Surya Jaya Prof Dr Surya Jaya (ari/detikcom)
Jakarta - Dalam menghukum dr Ayu dkk bersalah di tingkat Peninjauan Kembali (PK), hakim agung Prof Dr Surya Jaya menuliskan argumennya setebal 15 halaman. Namun analisa itu kandas karena 4 hakim agung lainnya membebaskan dr Ayu dkk dari dakwaan malpraktik.

Puskesmas Bahu, Sulawesi Utara (Sulut) merujuk pasien Siska Makatey pada pukul 09.00 WITA pada 10 April 2010 ke Rumah Sakit Kandou, Malalayang. Dua jam sebelumnya, ketuban Siska pecah.

Setelah masuk RS, Siska diperiksa USG dan hasilnya Siska dalam keadaan baik dan akan diusahakan untuk melahirkan secara normal. Infus dipasang sejak Siska masuk kamar UGD.

Pada pukul 18.00 WITA, pembukaan untuk melahirkan sudah lengkap, tetapi posisi bayi masih tinggi. Setelah dr Ayu dkk berkonsultasi dan konsuler menyarankan Siska melahirkan secara normal dengan posisi korban harus dimiringkan. Namun setelah dilakukan tidak berhasil.

Pada pukul 18.30 WITA dikonsultasikan lagi ke bagian anastesi dan ahli anastesi memberikan persetujuan untuk dioperasi. Ketika korban masuk RS, tekanan darah adalah 160/70. Menurut ahli Johanis F Mallo, tekanan darah itu termasuk tinggi. Sedangkan denyut nadi Siska 180 per menit.

Kemudian pada 20.55 WITA, operasi pun dimulai. Beberapa kejadian yang terjadi dalam proses operasi yaitu pada sayatan pertama keluar darah warna hitam. Hal ini berarti secara medis salah satu penyebabnya adalah korban kekurangan oksigen.

Atas hal itu, dr Ayu dkk menyampaikan kepada dokter anastesi, dr Anita Lengkong dan dr Anita memerintahkan operasi tetap dilanjutkan. Namun beberapa saat setelah operasi dinyatakan selesai, pasien dinyatakan meninggal dunia. Adapun bayi dapat bertahan hidup.

Riwayat persalinan pasien pada persalianan pertama mengalami kesulitan melahirkan.

"Bertolak dari fakta tersebut timbul pertanyaan, siapa dan apa penyebab meninggalnya pasien Siska Makatey?" kata Surya Jaya seperti terungkap dalam putusan PK yang dilansir di website Mahkamah Agung (MA), Sabtu (31/5/2014).

Menurut pendapat ahli di persidangan, penyebab kematian karena emboli, di mana emboli terdapat pada bilik jantung. Atas dasar ini, Surya Jaya yang juga guru besar Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar itu mengajukan beberapa hipotesa, yaitu:

1. Ini berarti di bilik jantung ada udara masuk. Apakah terjadinya emboli merupakan kesalahan para terpidana dalam menjalankan SOP atau di luar kemampuan para terpidana?

2. Ataukah ada penyebab lain yang merupakan kesalahan yang sifatnya pelanggaran SOP?

3. Atau kekeliruan atau keterlambatan para terpidana dalam menentukan dan melakukan tindakan medis dalam menentukan dan melakukan tindakan medis berupa operasi cito? Bahwa bisa saja terjadi sebaliknya, kalau sekiranya operasi dilakukan lebih awal atau lebih cepat saat pasien baru masuk ke RS.

Atas dasar pertimbangan itu, Prof Surya Jaya mengambil kesimpulan pasien dalam kondisi baik saat masuk RS dan korban hanya kesulitan melahirkan. Pasien juga dalam kondisi sadar saat masuk RS. Setelah berada dalam penanganan dr Ayu dkk, pasien yang tadinya akan melahirkan normal lalu dilakukan secara operasi Cito Sectio Caesaria.

"Keputusan dan penentuan yang belakangan diambil para terpidana untuk melakukan operasi, tentu saja merugikan posisi pasien/korban. Seharusnya tindakan operasi dilakukan lebih awal, dimana kondisi pasien masih relatif lebih baik dan tidak dilakukan operasi pada saat kondisi pasien gawat dan genting," ujar hakim agung yang membebaskan Antasari Azhar itu.

Menurut Surya, ketetepatan dan kecepatan dalam mengambil keputusan sangat menentukan keberhasilan operasi.

"Hal inilah yang merupakan hal penting mengenai standar pelayanan yang harus dilakukan. Dalam kenyatannya, operasi tidak dilakukan lebih awal tetapi dilakukan kurang lebih 12 jam kemudian, saat kondisi pasien dalam keawaan gawat dan genting," cetus hakim agung yang memenjarakan koruptor Adrian Waworuntu hingga meninggal dunia itu.

Rentetan kejadian di atas, menurut Surya Jaya, menunjukan hubungan kausalitas perbuatan dan kesalahan dr Ayu dkk terkait pelanggaran SOP yang berakibat meninggalnya Siska.

"Menurut saya, kalau sekiranya operasi dilakukan lebih awal, hasilnya bisa lain," kata Surya Jaya menyimpulkan.

Atas dasar pertimbangan itu, Surya Jaya pun memvonis dr Ayu, dr Hendy dan dr Hendry bersalah karena kelalaiannya mengakibatkan orang meninggal dunia dan memenuhi unsur pasal 359 KUHP. Namun pendapat Surya Jaya kalah dalam rapat majelis PK pada 7 Februari 2014 lalu. Empat hakim agung lainnya, Dr M Saleh, Maruap Dohmatiga Pasaribu, Syarifuddin dan Margono menyatakan dr Ayu dkk bebas.



  • Vonis dr Ayu Bersalah, Ini Dasar Analisa Hakim Agung Prof Dr Surya Jaya
    Prof Dr Surya Jaya (ari/detikcom)
  • Vonis dr Ayu Bersalah, Ini Dasar Analisa Hakim Agung Prof Dr Surya Jaya
    Prof Dr Surya Jaya (ari/detikcom)

(asp/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed